Showing posts with label Prasejarah. Show all posts
Showing posts with label Prasejarah. Show all posts

Wednesday, October 7, 2015

Jenis bangsa pra aksara Indonesia

Sejarah - Setelah sebelumnya kita ulas Migrasi berbagai bangsa ke Indonesia, artikel sejarah selanjutnya akan kita bahas Jenis bangsa pra aksara Indonesia. Dengan adanya migrasi/perpindahan bangsa dari daratan Asia ke Indonesia, maka pada zaman Pra-aksara, Kepulauan Indonesia ternyata sudah dihuni oleh berbagai bangsa.

Bangsa Melanesia/Papua Melanosoid yang merupakan Ras Negroid memiliki ciri-ciri antara lain : kulit kehitam-hitaman, badan kekar, rambut keriting, mulut lebar, dan hidung mancung. Bangsa ini sampai sekarang masih terdapat sisa-sisa keturunannya, seperti suku Sakai/Siak dan suku-suku bangsa Papua Melanosoid yang mendiami Pulau Irian dan pulau-pulau Melanesia.

Bangsa Melayu Tua/Proto Melayu yang merupakan ras Malayan Mengoloid memiliki ciri-ciri antara lain : kulit sawo matang, rambut lurus, badan tinggi ramping, bentuk mulut dan hidung sedang. Yang termasuk keturunan bangsa ini adalah Suku Toraja (Sulawesi Selatan), Suku Sasak (Pulau Lombok), Suku Dayak (Kalimantan Tengah), Suku Nias (Pantai Barat Sumatera) dan Suku Batak (Sumatera Utara) serta Suku Kubu (Sumatera Selatan).

Bangsa Melayu Muda/Deutro Melayu yang merupakan ras Malayan Mongoloid sama dengan bangsa Melayu Tua, sehingga memiliki ciri-ciri yang sama. Bangsa ini berkembang menjadi Suku Aceh, Minangkabau (Sumatera Barat), Suku Jawa, Suku Bali, Suku Bugis dan Makasar di Sulawesi dan sebagainya.

Selengkapnya silahkan baca : Tentang bangsa Proto-Melayu dan Deutro Melayu

Adapun diagram untuk memperjelas uraian tentang jenis bangsa Pra-aksara Indonesia silahkan lihat di artikel versi Inggrisnya : Pre historic peoples of Indonesia

Demikian sekilas ulasan yang dapat kami sampaikan mengenai sejarah Jenis bangsa pra aksara Indonesia, semoga menambah pengetahuan kita semua.
Read more ...

Migrasi berbagai bangsa ke Indonesia

Sejarah - Warisan kebudayaan Neolithikum yang berupa kapak persegi dan kapak lonjong yang tersebar ke Indonesia tidak datang dengan sendirinya, tetapi terdapat manusia pendukungnya yang berperan aktif dalam rangka penyebaran kebudayaan tersebut.

Manusia pendukung yang berperan aktif dalam rangka penyebaran kebudayaan itulah merupakn suatu bangsa yang melakukan perpindahan atau migrasi dari daratan Asia ke kepulauan Indonesia, bahkan masuk ke pulau-pulau yang tersebar di Lautan Pasifik.

Bangsa yang beremigrasi ke Indonesia berasal dari daratan Asia, tepatnya Yunan Utara, bergerak menuju selatan memasuki daerah Hindia Belakang (Vietnam/Indochina) dan terus ke Kepulauan Indonesia.

Bangsa tersebut adalah bangsa Melanesia atau disebut juga dengan Papua Melanosoid yang merupakan rumpun bangsa Melanosoid atau Ras Negroid. Bangsa ini merupakan gelombang pertama yang beremigrasi ke Indonesia. Bangsa Melayu yang merupakan rumpun bangsa Austronesia termasuk golongan Ras Malayan Mongoloid.

Bangsa-bangsa ini melakukan perpindahan ke Indonesia melalui dua gelombang, yaitu sebagai berikut :

1. Gelombang pertama tahun 2000 SM, menyebar dari daratan Asia ke Semenanjung Melayu, Indonesia, Philipina dan Formosa serta Kepulauan Pasifik sampai Madagaskar yang disebut dengan Proto Melayu. Bangsa ini masuk ke Indonesia melalui dua jalur, yaitu jalur barat dan timur, dan membawa kebudayaan Neolithikum (Batu Muda).

2. Gelombang kedua tahun 500 SM, disebut dengan bangsa Deutro Melayu. Bangsa ini masuk ke Indonesia membawa kebudayaan logam (perunggu).

Selengkapnya dua bangsa dalam catatan sejarah ini silahkan baca di artikel :
a. Tentang bangsa Proto-Melayu dan Deutro Melayu
b. Catatan sejarah datangnya manusia purba ke Indonesia

Demikian pembahasan mengenai sejarah Migrasi berbagai bangsa ke Indonesia. Semoga menjadikan manfaat.
Read more ...

Tuesday, October 6, 2015

Masyarakat pra aksara Indonesia

Sejarah - Pada pembahasan tentang masyarakat pra-aksara Indonesia, kita akan mempelajari berbagai jenis manusia yang hidup pda zaman ini, selengkapnya sebagai berikut :

Jenis-jenis manusia purba di Indonesia
Manusia yang hidup pada zaman pra-aksara sekarang sudah berubah menjadi fosil. Fosil manusia yang ditemukan di Indonesia  terdiri dari beberapa jenis. Hal ini diketahui dari kedatangan para ahli dari Eropa pada abad ke-19, karena mereka tertarik untuk mengadakan penelitian tentang fosil manusia purba di Indonesia.

Fosil manusia yang ditemukan pertama kali berasal dari Trinil, Jawa Timur oleh Eugene Dubois, sehingga menarik para ahli lain untuk datang ke Pulau Jawa dan mengadakan penelitian yang serupa. Selanjutnya, penyelidikan fosil manusia dilakukan oleh GRH Von Koeningswald, Ter Har, dan Oppenoorth serta F. Weidenrech. Mereka berhasil menemukan fosil manusia di daerah Sangiran, Ngandong, di lembah Sungai Bengawan Solo.

Atas temuan fosil tersebut, Von Koeningswald membagi zaman Dilluvium/Pleistosen di Indonesia menjadi 3 lapisan, yaitu sebagai berikut :
1. Pleistosen bawah/Lapisan Jetis.
2. Pleistosen Tengah/lapisan Trinil
3. Pleistosen Atas/lapisan Ngandong.

Penyelidikan fosil mausia selain dilakukan sejawan Eropa, juga dilakukan oleh para ahli dari Indonesia, seperti Prof. Dr. Sartono, Prof. Dr. Teuku Jacob, Dr. Otto Sudarmadji dan Prof. Dr. Soejono.

Lokasi penyelidikan antara lain Sangiran dan lembah Sungai Bengawan Solo. Dari hasil penyelidikan tersebut dapat diketahui jenis manusia purba yang hidup di Indonesia. Agar lebih jelas, berikut jenis-jenis manusia purba di Indonesia yang dibahas secara sekilas :

1. Meganthropus
Von Koeningswald menemukan tengkorak di Desa Sangiran tahun 1941. Tengkorak yang ditemukan berupa tulang rahang bawah, dan gigi geliginya yang tampak mempunyai batang yang tegap dan geraham yang besar-besar.

Hasil penemuan tersebut, oleh Von Koeningswald diberi nama Meganthropus Paleojavanicus yang artinya manusia raksasa tertua dari Pulau Jawa. Fosil tersebut diperkirakan hidup antara 2 sampai 1,5 juta tahun yang lalu, dan berasal dari lapisan Jetis.

2. Pithecanthropus Erectus
Dengan kedatangan Eugene Dubouis ke Pula Jawa tahun 1890 di Trinil, Ngawi, Jawa Timur ditemukan tulang rahang, kemudian tahun 1891 bagian tengkorak dan tahun 1892 ditemukan tulang paha kiri.

Setelah disusun, hasil penemuan fosil-fosil tersebut oleh Eugene Dubouis diberi nama Pithecanthropus Erectus, yang artinya : manusia kera yang berjalan tegak. Dan sekarang fosil tersebut dinamakan sebagai Homo Erectus dari Jawa. Homo Erectus hidupnya diperkirakan antara 1,5 sampai 500.000 tahun yang lalu, dan berasal dari Pleistosen tengah atau lapisan Trinil.

Dari penjelasan di atas, dapat kita pahami bahwa Homo Erectus ternyata usianya lebih muda jika dibandingkan dengan Meganthropus Paleojavanicus. Para ilmuwan awalnya menganggap hasil temuan E. Dubouis (Homo erectus) bukan termasuk garis keturunan manusia, tetapi setelah adanya temuan fosil oleh Von Koeningswald dari lapisan Jetis/Pleistosen bawah, maka seluruh ilmuwan mengakui bahwa fosil-fosil yang ditemukan Von Koeningswald lebih tua umumnya jika dibandingkan dengan Homo Erectus yang ditemukan E. Dubouis.

3. Homo Sapiens
Homo Sapiens adalah jenis manusia purba yang memiliki bentuk tubuh yang sama dengan manusia sekarang. Mereka telah memiliki sifat seperti manusia sekarang. Kehidupan mereka sangat sederhana, dan hidupnya mengembara.

Jenis fosil Homo Sapiens yang ditemukan di Indonesia terdiri dari fosil manusia yang ditemukan di daerah Ngandong, Blora di Sangiran dan Sambung Macan, Sragen Jawa Tengah, lembah Suangai Bengawan Solo tahun 1931-1934.

Fosil ini settelah diteliti oleh Von Koeningswald dan Weidenreich diberi nama Homo Sapien Soloensis (Homo Soloensis). Fosil manusia purba yang ditemukan di Wajak (Tulung Agung) tahun 1889 oleh Van Reitschotten diteliti oleh Eugene Dubouis, kemudian diberi nama menjadi Homo Sapiens Wajakensis. Tempat penemuan kedua fosil manusia di atas adalah lapisan Ngandong atau Pleistosen shidupnya diperkirakan 100.000 - 50.000 tahun yang lalu.

Referensi lain yang membahas manusia purba silahkan baca di artikel sejarah :
a. Manusia purba jaman prasejarah
b. Catatan sejarah datangnya manusia purba ke Indonesia

Demikian pembahasan mengenai Masyarakat pra aksara Indonesia, semoga menambah pengetahuan kita tentang sejarah.
Read more ...

Thursday, September 24, 2015

Pembabakan zaman Pra aksara

Pembabakan zaman Pra-aksara berdasarkan peninggalan arkeologi - Zaman Pleistosen berakhir 10.000 tahun Sebelum Masehi, kemudian diikuti oleh datangnya zaman aluvium atau zaman holosin yang masih berlangsung hingga sekarang.

Dari zaman ini muncullah nenek moyang manusia sekarang, yaitu spesies homo sapiens atau makhluk cerdas. Zaman Pra aksara dapat dibagi berdasarkan pembagian menurut arkeologi (ilmu yang mempelajari hasil-hasil budaya pada masa lampau berupa benda-benda peninggalan dari kebudayaan manusia itu sendiri).

Atas dasar peninggalan itu zaman Pra aksara dapat dibagi menjadi sebagai berikut :

1. Pembabakan zaman Pra aksara berdasarkan peninggalan arkeologi

a. Zaman Batu
Zaman Batu terjadi sebelum logam dikenal dan alat-alat kebudayaan terutama dibuat dari batu di samping kayu dan tulang. Zaman batu ini dapat dibagi lagi menjadi  3, yaitu : zaman batu tua (Paleolithichum), Zaman batu tengah (Mesolithicum), dan zaman batu baru (Neolithicum). Pembahasan lebih jelasnya sebagai berikut :

1) Zaman batu tua (Paleolithichum)
Zaman batu tua disebut juga Paleolithichum. Mengapa disebut sebagai zaman batu tua? Sebab alat-alat batu buatan manusia masih dikerjakan secara kasar, tidak diasah atau dipoles. Alat-alat hidup tersebut bentuknya juga masih sangat sederhana. Contohnya : kapak genggam.

Apabila dilihat dari sudut mata pencahariannya, periode ini disebut masa berburu dan meramu makanan tingkat sederhana. Pendukung kebudayaan ini adalah homo erectus yang terdiri dari pithecanthropus dan homo erectus.


2) Zaman batu tengah (Mesolithicum)
Pada zaman batu tengah (Mesolithicum), alat-alat batu sebagian sudah dihaluskan, terutama bagian yang dipergunakan. Tembikar juga sudah dikenal pada masa itu. Periode ini juga disebut masa berburu dan meramu makanan tingkat lanjut.


Pendukung kebudayaan ini adalah homo sapiens (manusia sekarang), yaitu ras Austromelanosoide (mayoritas) dan Mongoloide (minoritas). Zaman ini merupakan masa peralihan di mana cara pembuatan alat-alat kehidupan lebih baik dan lebih halus dari zaman batu tua. Contohnya : pebble/kapak Sumatra.

3) Zaman batu baru (Neolithicum)
Alat-alat batu buatan manusia pada zaman batu baru (Neolithicum) sudah diasah atau dipoles sehingga lebih halus dan indah. Disamping itu, tembikar, tenun, dan batik juga sudah dikenal. Periode ini disebut masa bercocok tanam.

Pendukung kebudayaan ini adalah homo sapiens dengan ras Mongoloide (mayoritas) dan ras Austromelanosoide (minoritas). Contoh alat-alat zaman batu baru antara lain : apa persegi dan kapak lonjong.

Dari ketiga zaman batu tersebut ada pula para peneliti sejarah yang membagi zaman batu menjadi empat, silahkan baca di artikel prasejarah : 4 zaman batu

b. Zaman logam
Pada zaman logam, orang sudah dapat membuat alat-alat dari logam, disamping alat-alat dari batu. Orang sudah mengenal teknik melebur logam dan mencetaknya menjadi alat-alat yang diinginkannya.

Teknik pembuatan alat logam ada dua macam, yaitu dengan cetakan batu yang disebut bivalve, dan dengan cetakan tanah liat dan lilin yang disebut acire perdue. Selengkapnya tentang bivalve dan acire perdue silahkan baca di artikel : Teknik cetakan Bivalve dan A Cire Perdue

Periode ini juga disebut masa perundagian. Mengapa disebut masa perundagian? Karena dalam masyarakat timbul golongan undagi yang terampil melakukan pekerjaan tangan.

Zaman logam ini masih dibagi lagi menjadi zaman tembaga, zaman perunggu, dan zaman besi. Pembahasan selengkapnya sebagai berikut:

1) Zaman tembaga
Orang menggunakan tembaga sebagai alat kebudayaan. Alat kebudayaan ini hanya dikenal di beberapa bagian dunia saja. Di Asia Tenggara (termasuk Indonesia), tidak dikenal zaman tembaga.

2) Zaman perunggu
Pada zaman perunggu orang sudah dapat mencampur tembaga dengan logam lain, sehingga diperoleh logam yang lebih keras. Karena hasil temuan yang dominan adalah alat-alat dari perunggu maka disebut zaman perunggu.

3) Zaman besi
Pada zaman besi orang sudah dapat melebur besi dari bijihnya untuk di tuang menjadi alat-alat yang diperlukan. Teknik peleburan besi lebih sulit dari teknik peleburan tembaga maupun perunggu, sebab melebur besi membutuhkan panas yang sangat tinggi, yaitu sekitar 3500 derajat celcius.

Zaman logam di Indonesia didominasi oleh alat-alat dari perunggu, sehingga zaman besi atau logam disebut juga zaman perunggu. Alat-alat besi yang ditemukan pada zaman logam jumlahnya sedikit dan bentuknya seperti alat-alat perunggu, sebab kebanyakan alat-alat dari besi ditemukan pada zaman sejarah.

Perlu ditegaskan, bahwa dengan dimulainya zaman logam bukan berarti berakhirnya zaman batu, karena pada zaman logam pun alat-alat dari batu terus berkembang, bahkan sampai sekarang. Sesungguhnya nama zaman logam hanyalah untuk menyatakan bahwa pada zaman tersebut alat-alat dari logam telah dikenal dan dipergunakan secara dominan.

Perkembangan zaman logam di Indonesia berbeda dengan di Eropa. Karena zaman logam di Eropa mengalami 3 fase/bagian, yaitu : zaman tembaga, zaman, perunggu, dan zaman besi. Sedangkan Indonesia khususnya dan Asia Tenggara umumnya tidak mengalami zaman tembaga, tetapi langsung memasuki zaman perunggu dan besi secara bersamaan.

Antara zaman batu dan zaman logam telah berkembang kebudayaan megalithicum, yaitu kebudayaan yang menggunakan media batu-batu besar sebagai alatnya. Bahkan puncak kebudayaan megalithicum justru pada zaman logam.

2. Pembabakan zaman Pra aksara berdasarkan Geologi

Berdasarkan geologi, zaman pra aksara di bagi menjadi 4, yaitu : zaman tertua (Arkaekum), zaman primer atau zaman hidup tua (Paleozoikum), Zaman sekunder atau zaman hidup pertengahan (Mesozoikum), dan Zaman hidup baru (Neozoikum). Pembahasan selengkapnya mengenai tiga zaman tersebut sebagai berikut:

a. Zaman tertua (Arkaekum)
Zaman tertua atau Arkaekum berlangsung kira-kira 2500 juta tahun, pada saat itu kulit bumi masih panas, sehingga tidak ada kehidupan. Dari penjelasan ini mungkin kit abertanya, lalu kapan muncul kehidupan?

c. Zaman primer atau zaman hidup tua (Paleozoikum)
Zaman primer atau Paleozoikum berlangsung selama 340 juta. Makhluk hidup yang muncul pada zaman ini seperti mikro organisme, ikan. amfibi, reptil, dan binatang ampfibi yang tidak bertulang punggung. Meskipun zaman primer berakhir, namun kehidupan terus berkembang, sehingga memasuki zaman baru.

c. Zaman sekunder atau zaman hidup pertengahan (Mesozoikum
Zaman sekunder atau Mesozoikum berlangsung kira-kira 140 juta tahun. Pada zaman pertengahan ini jenis reptil mencapai tingkat yang terbesar, sehingga zaman ini sering disebut juga dengan zaman reptil.

Setelah berakhirnya zaman sekunder ini, maka muncul kehidupan yang lain yaitu jenis burung dan bintang menyusui yang masih rendah sekali tingkatannya. Sedangkan jenis reptilnya mengalami kepunahan.

d. Zaman hidup baru (Neozoikum)
Zaman hidup baru atau Neozoikum dibedakan lagi menjadi dua, yaitu zaman ketiga (tersier) dan zaman keempat (kuartier), selengkapnya sebagai berikut :

1) Zaman ketiga (Tersier)
Zaman ketiga atau tersier berlangsung sekitar 60 juta tahun. Yang terpenting, pada zaman ini ditandai dengan berkembangnya jenisbinatang menyusui seperti jenis primata, misalnya kera.

2) Zaman keempat (Kuartier)
Zaman keempat atau kuartier ditandai dengan adanya kehidupan manusia sehingga merupakan zaman terpenting. Zaman kuartier dibagi lagi menjadi dua zaman, yaitu zaman Pleistosen dan Holosen.

Zaman Pleistose atau Dilluvum berlangsung rai600.000 tahun yang ditandai dengan adanya manusia purba. Sedangkan zaman Holosen atau Alluvium berlangsung kira-kira 20.000 tahun yang lalu dan terus berkembang sampai dewasa ini.Pada zaman ini ditandai dengan munculnya manusia jenis homo sapiens yang memiliki ciri-ciri seperti manusia sekarang ini.

3. Pembabakan zaman Pra aksara berdasarkan ciri-ciri kehidupan masyarakat

Makhluk manusia adalah makhluk yang hidup berkelompok dan mempunyai organisme yang secara biologis berbeda dan lebih lemah dari jenis binatang. Namun, otak manusia berevolusi paling jauh bila dibandingkan dengan makhluk lainnya.

Kemampuan otak manusia yang berupa proses berpikir menyebabkan manusia dapat memilah-milah tindakan yang dapat menguntungkan kelangsungan hidupnya.

Dalam rangka kelangsungan hidupnya maka manusia merupakan makhluk pembentuk kebudayaan dan manusia juga sebagai pembentuk masyarakat, karena pada hakekatnya manusia tidak dapat hidup sendiri tetapi harus berkelompok.

Kehidupan masyarakat (manusia) pada zaman pra aksara terbagi menjadi 3 periode, yaitu sebagai berikut :
a. Masa berburu dan mengumpulkan makanan
Pada masa berburu dan mengumpulkan makanan, secara fisik manusia masih terbatas usahanya dalam menghadapi kondisi alam. Tingkat berpikir manusia yang masih rendah menyebabkan hidupnya berpindah-pindah tempat dan bergantung kepada alam dengan cara berburu dan mengumpulkan makanan.

b. Masa bercocok tanam
Pada masa bercocok tanam, kemampuan manusia mulai berkembang, sehingga timbul upaya menyiapkan persediaan bahan makanan yang cukup dalam suatu masa tertentu. Dalam upaya tersebut, maka manusia bercocok tanam dan tidak lagi tergantung kepada alam.

c. Masa perundagian
Pada masa perundagian asyraat sudahmengenal teknik-teknik pengolahan logam. Pengolahan logam memerlukan keahlian khusus. Pekerjaan mengolah logam untuk membuat benda-benda tertentu disebut perundagian, sedangkan orang yang ahli mengerjakannya dikenal dengan sebutan undagi.

Referensi lain mengenai zaman ini silahkan baca di artikel sejarah : Pembagian zaman berdasarkan corak kehidupan

Demikian uraian Pembabakan zaman Pra aksara yang cukup panjang, semoga memberikan manfaat bagi kita semua untuk lebih mengenal masa prasejarah.
Read more ...

Sekilas tentang zaman pra aksara

Perjalanan manusia dalam menempuh kehidupan seperti sekarang tidak terjadi begitu saja dalam waktu yang singkat, namun telah dimulai sejak ribuan tahun yang silam. Keadaan pada waktu itu yang berkelanjutan hingga kini, membentuk manusia yang hidup pada saat ini.

Bagaimana manusia mulai berkomunikasi tanpa menggunakan tulisan? Jawabannya adalah, bahwa komunikasi merupakan salah satu cara untuk berinteraksi. Komunikasi pada masa pra-aksara dilakukan secara lisan dan dengan pemahaman akan tanda-tanda atau gambar-gambar yang sering digunakan untuk berkomunikasi.

Untuk lebih jelasnya, bab ini akan membahas bagaimana manusia mengalami perkembangan pada masa pra-aksara.

Pra-aksara adalah istilah yang digunakan untuk merujuk kepada masa di mana catatan sejarah yang tertulis belum tersedia. Zaman Pra-aksara dapat dikatakan bermula pada saat terbentuknya alam semesta, namun umumnya digunakan untuk mengacu kepada manusia di mana terdapat kehidupan di muka Bumi. Contohnya : dinosaurus biasanya disebut hewan Pra-aksara dan manusia gua disebut manusia Pra-aksara.

Karena tidak terdapat peninggalan catatan tertulis dari zaman Pra-aksara, keterangan mengenai zaman ini diperoleh melalui bidang-bidang seperti paleontologi, astronomi, biologi, geologi, antropologi, dan arkeologi.

Zaman Pra-aksara dimulai sejak adanya manusia yang terjadi pada permulaan zaman kuarter, yaitu pada zaman dilluvium (pleistosen) sekitar 3 juta tahun Sebelum Masehi. Periode Pra-aksara di Indonesia berakhir sekitar abad ke-3 sampai ke-5 Masehi, ketika ditemukan prasasti-prasasti di Kutai dan Tarumanegara.


Zaman Pleistosen ditandai dengan meluasnya lapisan es di kedua kutub bumi (zaman glasial) dan diselingi dengan zaman es kembali mencair (interglasial). Keadaan ini silih berganti selama zaman pleistosen sampai empat kali. Di daerah tropika zaman glasial ini berupa zaman hujan (zaman pluvial) yang diselingi dengan zaman kering (interpluvial).

Pada zaman glasial, permukaan air laut telah menurun dengan drastis, sehingga banyak dasar laut yang kering menjadi daratan. Di Indonesia bagian barat, dasar laut yang mengering disebut Dataran Sunda, sedangkan di Indonesia bagian timur disebut Dataran Sahul.

Dataran Sunda telah menyebabkan kepulauan Indonesia bagian barat menjadi satu dengan Benua Asia, sedangkan Dataran Sahul telah pula menghubungkan kepulauan Indonesia bagian timur dengan Benua Australia.

Itulah sebabnya fauna da flora Indonesia barat mirip dengan fauna dan flora Asia, dan sebaliknya fauna dan flora Indonesia timur mirip dengan Australia. Manusia yang hidup di zaman pleistosen adalah spesies homo erectus yang menjadi pendukung kebudayaan batu tua (Paleolithicum).

Selanjutnya baca artikel Prasejarah : Pembabakan zaman Pra aksara

Baca juga mengenai :

Demikian Sekilas tentang zaman pra aksara, semoga menambah pengetahuan kita mengenai sejarah.
Read more ...

Thursday, December 11, 2014

Peradaban lembah sungai Kuning (Hwang-Ho)

Prasejarah. Sungai Kuning terletak di daerah pegunungan Tibet. Mengapa diberi nama sungai Kuning? Karena aliran sungai setelah melalui pegunungan Cina Utara membawa lumpur kuning yang membentuk dataran rendah Cina. Kehidupan masyarakatnya dengan bercocok tanam, seperti menanam bahan makanan pokok yang berupa gandum, padi, teh, jagung, kedelai dan memelihara ulat sutra.

Teknologi
Karena bumi Cina mengandung bahan tambang, maka barang-barang tambang diolah untuk kebutuhan hidup masyarakatnya. Misalnya : perhiasan, perabot rumah tangga dan alat-alat senjata.

Aksara dan bahasa
Masyarakat Cina sudah mengenal adanya tulisan yang berupa tulisan gambar yang merupakan lambang. Sedangkan bahasa yang digunakan berbeda-beda antara provinsi satu dengan lainnya.
Contoh tulisan masyarakat Cina :

lembah sungai kuningAstronomi
Masyarakat Cina mengenal ilmu perbintangan, maka muncul pula sistem penanggalan atau kalender

Sistem pemerintahan
Raja Cina yang tertua adalah Kaisar Huang-Ti (2697 SM). Penggantinya bernama Yao kemudian Sun, lalu Yu yang menjadikan kerajaan bernama HSIA dan sistem pemerintahan turun-temurun, antara lain Dinasti :
contoh tulisan cina1. Hsia (1766 SM) : dinasti ini tidak meninggalkan prasasti, sehingga disebut zaman Proto sejarah.

2. Chou (221 SM) : Sebagai peletak dasar sistem pemerintahan feodalis.

3. Chin (206 SM) : ditandai dengan munculnya ajaran dari guru besar dinasti Cjou.

4. Han (78 SM) : pemerintahannya didasarkan pada ajaran bahwa setiap orang yang ingin menjadi pegawai negeri harus diuji lebih dahulu.

5. Tang (907 M) : pendiri dinasti ini adalah Lhi Sin Min.
Tindakan-tindakannya antara lain :
a. mengeluarkan undang-undang tentang pembagian tanah
b. membuat peraturan pajak
c. membagi kerajaan menjadi 10 propinsi

Sifat pemerintahannya adalah desentralisasi, artinya daerah yang berada dibawah kekuasaannya dijadikan daerah otonomi.

6. Sung (960 M) : pendiri dinasti ini adalah Sung Tai Tsu. Perkembangannya dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan.

7. Yuan (abad ke-12) : penguasa 1 pada tahun 1260 adalah Khubilai Khan di Mongol yang meneruskan usaha perluasan wilayah ke Jepang dan ke Indonesia.

8. Ming (1642) pendiri dinasti ini adalah Chu Yuang Chang. Pemerintahannya merupakan masa pemulihan kebudayaan Cina. Pada akhir kekuasaan dinasti Ming muncul perampokan dan pemberontakan di Cina.

Filsafat dan kepercayaan

Filsafat dinasti Chou berhasil meletakkan dasar-dasar kehidupan yang berpengaruh, seperti ajaran-ajaran :
1. Taoisme adalah ajaran Lao Tse yang berisi semangat keadilan dan kesejahteraan yang kekal yaitu Tao.
2. Konfusianisme adalah ajaran yang berisi segala bencana yang terjadi di dunia disebabkan manusia.
Read more ...

Thursday, September 18, 2014

Catatan sejarah datangnya manusia purba ke Indonesia

Prasejarah. Wilayah Indonesia telah di huni oleh manusia sejak dua juta tahun yang lalu. Hal ini dapat diketahui berdasarkan ditemukannya sejumlah fosil di wilayah Indonesia. Penghuni wilayah Indonesia pada waktu itu adalah manusia-manusia purba dengan kebudayaan batu tua, seperti Meganthropus paleojavanicus, Pithecanthropus erectus, Homo soloensis, dan Homo wajakensis.

Di antara manusia purba tersebut, Homo wajakensis yang paling dominan karena lebih lebih mirip dengan manusia-manusia yang paling kini dikenal sebagai penduduk asli Australia, yaitu suku Aborigin.

Dai sini dapat diketahui bahwa penduduk asli Indonesia adalah suku bangsa Negroid, atau sering disebut sebagai Melanesoid yang berkulit hitam. Manusia purba di Indonesia membawa kebudayaan batu tua atau paleolitikum yang hidupnya masih nomaden atau berpindah-pindah dengan mata pencaharian berburu dan meramu.

Catatan sejarah datangnya manusia purba ke Indonesia
Wilayah nusantara kemudian kedatangan bangsa Melanesoid yang berasal dari Teluk Tonkin, tepatnya dari Bacson-Hoabinh. Berbagai penelitian tentang fosil yang pernah ditemukan di tempat asalnya menunjukkan bahwa induk bangsa Melanesoid berkulit hitam berbadan kecil dan termasuk tipe Veddoid-Austroloid.

Wilayah Indonesia merupakan daerah yang bebas dan tanpa pemilik sebelum didatangi bangsa-bangsa dari luar. Manusia purba yang tinggal di wilayah Indonesia tidak memerlukan tanah sebagai modal untuk hidup, karena mereka hidup berpindah-pindah.

Mereka berpindah-pindah mencari daerah yang ada sumber makanan. Biasanya mencari lembah atau wilayah yang terdapat aliran sungai untuk mendapatkan ikan dan kerang. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya fosil-fosil di wilayah Indonesia yang berada di lembah-lembah sungai. Mereka mulai hidup menetap pada suatu tempat dalam kurun waktu tertentu atau seminomaden, ketika bangsa Melanesoid mulai datang ke wilayah Indonesia.

Bangsa Melanesoid sebagai bangsa pendatang juga hidup seminomaden. Mereka tinggal atau menetap di daerah yang menghasilkan bahan makanan, padahal penduduk asli terlebih dahulu menempati daerah tersebut. Akibatnya benturan antara kebudayaan Paleolitikum dan mesolitikum tidak dapat dihindari lagi. Dari pertemuan tersebut diperkirakan penduduk asli semakin terdesak ke pedalaman dan sebagian lagi ditumpas.

Bangsa Melanesoid mempunyai kebudayaan mesolitikum yang sudah mulai hidup menetap dalam suatu kelompok, sudah mengenal api, meramu, dan berburu binatang. Mereka juga telah mengenal teknologi bercocok tanam meskipun masih sangat sederhana. Cara bercocok tanam mereka dengan sistem perladangan yang berpindah-pindah. Jika lahan yang mereka tanami sudah tidak subur lagi, maka mereka berpindah mencari tempat lain yang lebih subur. Cara hidup mereka dinamakan seminomaden. Baca : Sejarah berburu dan meramu

Perpindahan manusia dan kebudayaan ke wilayah Indonesia selalu membawa kebudayaan yang lebih tinggi dari penduduk sebelumnya. Dari semua gelombang pendatang dapat dilihat bahwa mereka adalah bangsa-bangsa yang mulai menetap, bahkan telah menetap. Namun, dalam kehidupan yang telah menetap, pilihan untuk meninggalkan daerah asal bukan tanpa alasan.

Ketika kehidupan mulai menetap, maka tanah yang mereka butuhkan adalah tanah sebagai media untuk tetap hidup. Mereka yang membutuhkan lahan yang luas untuk bercocok tanam, karena mereka belum mengenal teknologi untuk mengolah lahan secar intensif. Mereka membutuhkan perluasan dan perpindahan untuk penguasaan lahan-lahan baru setiap jangka waktu tertentu.

Bangsa Melanesoid akhirnya menetap di wilayah Nusantara sekitar tahun 2000 SM. Pada tahun itu pula datang bangsa yang berkebudayaan lebih tinggi yang berasal dari rumpun Melayu Austronesia yakni bangsa Melayu Tua atau Proto-Melayu, suatu ras Mongoloid yang berasal dari daerah Yunan, dekat lembah sungai Yang Tze di Cina Selatan.

Menurut para ahli, alasan yang menyebabkan bangsa Melayu Tua meninggalkan daerah asalnya, antara lain karena desakan suku-suku liar yang datangnya dari Asia Tengah, adanya peperangan antarsuku dan adanya bencana alam berupa banjir akibat sering meluapnya sungai-sungai di daerah tersebut.

Bangsa Aria yang berasal dari Asia Tengah yang mendesak bangsa Melayu Tua memiliki tingkat kebudayaan yang lebih tinggi. Bangsa Melayu Tua yang terdesak meninggalkan Yunan dan ada yang tetap tinggal bercampur dengan bangsa Aria dan bangsa Mongol.

Bangsa-bangsa ini merupakan bagian dari kebudayaan neolitikum. Hal ini dapat diketahui dari artefak-artefak yang ditemukan dari bangsa ini. Ini berarti orang Melayu Tua telah mengenal budaya bercocok tanam yang cukup maju, dan bahkan mereka sudah mengenal peternakan. Dengan demikian, mereka telah dapat menghasilkan makanan sendiri (food producing).

Kemampuan ini membuat mereka dapat tinggal menetap lebih lama. Pola menetap  ini mengharuskan mereka untuk mengembangkan berbagai jenis dasar-dasar kebudayaan. Mereka juga telah membangun satu sistem politik dan pengorganisasian untuk mengatur pemukimannya.

Pengorganisasian ini menuntut mereka untuk dapat mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri, misalnya membuat peralatan rumah tangga dari bahan yang disediakan oleh alam. Mereka juga telah mengenal adanya sistem kepercayaan untuk membantu menjelaskan gejala alam yang dihubungkan dengan sistem pertanian.

Dengan masuknya bangsa pendatang, maka bangsa pembawa kebudayaan batu tua kemudian menyingkir ke pedalaman. Dengan pengorganisasian yang lebih rapi dan peralatan yang lebih maju, kaum pendatang dapat mengalahkan penduduk asli. Kebudayaan yang mereka bawa kemudian menggantikan kebudayaan penduduk asli.

Arus pendatang yang masuk ke wilayah nusantara tidak hanya datang dalam sekali saja, kelompok yang kalah dalam perebutan tanah di daerah asalnya akan mencari tanah di wilayah lain. Bangsa Melayu tua yang sudah mapan sudah mengenal bercocok tanam, beternak, dan sudah menetap juga masih ingin mencari daerah lain. Kembali lagi, daerah subur dengan aliran sungai atau mata air menjadi incaran. Wilayah yang sudah mulai ditempati oleh bangsa Melanesoid harus diperjuangkan untuk mempertahankan dari bangsa Melayu Tua.

Kedatangan bangsa Melayu Tua juga memungkinkan terjadinya percampuran antara bangsa Melayu Tua dan bangsa Melanesia yang terlebih dahulu datang ke wilayah nusantara. Bangsa melanesia yang tidak bercampur terdesak dan mengasingkan diri ke pedalaman.

Sisa-sisa keturunan bangsa Melanesia saat ini didapati pada orang-orang suku Sakai di Siak, suku Kubu, serta Anak Dalam di Jambi dan Sumatra Selatan, orang Semang di pedalaman Melayu, orang Aeta di pedalaman Filipina, orang-orang Papua Melanesoid dan pulau-pulau Melanesia.

Orang-orang Melayu Tua yang telah bercampur dengan bangsa Aria mulai datang ke wilayah nusantara sekitar tahun 2000 - 300 SM, yaitu ketika terjadi gelombang migrasi kedua dari Yunani. Mereka disebut orang Melayu Muda atau Deutro Melayu dengan kebudayaan perunggunya. Baca selengkapnya di : Peninggalan kebudayan zaman Dongson

Kebudayaan ini lebih tinggi lagi daripada kebudayaan batu muda yang telah ada, karena telah mengenal logam sebagai alat perkakas rumah tangga dan alat produksi. Kedatangan bangsa Melayu Muda mengakibatkan bangsa melayu Tua yang pada awalnya hidup di sekitar aliran sungai dan pantai mulai terdesak ke pedalaman. Hal ini dikarenakan kebudayaannya kalah maju dari bangsa Melayu Muda dan kebudayaannya tidak banyak mengalami perubahan.

Sisa-sisa keturunan bangsa Melayu Tua banyak ditemukan di daerah pedalaman di Indonesia seperti Dayak, Toraja, Nias, Batak pedalaman, Kubu, dan Sasak. Dengan menguasai tanah, bangsa Melayu Muda dapat berkembang dengan pesat kebudayaannya, bahkan menjadi penyumbang terbesar sebagai manusia awal di Indonesia.

Berbagai suku bangsa yang datang ke wilayah Nusantara dalam kurun waktu ratusan sampai ribuan tahun tersebut tidak seluruhnya menetap di Nusantara. Di antara mereka ada yang bergerak Cina Selatan, kemudian kembali ke daerah asalnya dengan membawa kebudayaan setempat atau kembali ke wilayah Nusantara.

Dalam arus kedatangan bangsa-bangsa ke wilayah Nusantara, bangsa yang lebih dahulu datang menyerap bahasa dan kebudayaan bangsa yang datang setelahnya. Percampuran antarbangsa inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Nusantara yang telah menjadi titik pertemuan dari Bangsa Mongoloid (ras kuning) yang bermigrasi ke selatan dari Yunan, dengan bangsa Melanesoid.
Read more ...

Wednesday, September 17, 2014

Persebaran kebudayaan perunggu

Prasejarah. Benda-benda peninggalan di zaman perunggu di Asia Tenggara untuk pertama kalinya ditemukan di Dongson, Vietnam bagian utara. Bekas kuburan di Dongson berisi benda-benda dari perunggu serta besi.

Benda-benda tersebut antara lain nekara, genderang perunggu, kapak perunggu dengan beraneka ragam bentuk (besar, kecil, pendek, lebar, dan bulat), candrasa (bejana perunggu tempat menyimpan abu jenazah orang yang telah meninggal), perhiasan dari perunggu, arca perunggu, mata uang, dan alat-alat dari besi.

Satu hal yang sangat menarik dari alat-alat tersebut adalah hiasan-hiasan bergambar yang dituangkan pada benda-benda perunggu dan nekara. Misalnya, nekara dengan gambar orang yang sedang melakukan tarian upacara dengan memegang candrasa, yang berpakaian hiasan daun-daunan dan bulu-bulu. Selain itu ada juga nekara bergambar hewan dan tumbuhan.

Ada pula nekara dengan gambar perahu yang dari samping bentuknya seperti bulan sabit dengan bentuk kepala burung pada bagian depan dan ekor burung pada bagian belakangnya.

Benda tersebut merupakan perahu mayat yang banyak digunakan oleh suku bangsa di Asia Tenggara sebagai peti mayat. Menurut kepercayaan mereka, perahu peti mayat itu akan membawa roh dari yang meninggal ke dunia akhirat.

Peninggalan selengkapnya bisa dibaca pada artikel Peninggalan kebudayan zaman Dongson
Read more ...

Persebaran kebudayaan Neolitikum

Prasejarah. Persebaran manusia yang membawa kebudayaan neolitikum berasal dari Benua Asia bagian tenggara. Bentuk fisik ras ini diperkirakan memiliki kesamaan dengan ras Mongoloid. Bahasa yang digunakan adalah bahasa yang merupakan induk dari bahasa Kadai (bahasa yang digunakan di Cina Selatan, Hainan, dan Taiwan), bahasa Cham (di Vietnam Tengah), dan bahasa Austronesia (di Samudra Indonesia dan Pasifik). Bahasa-bahasa induk tersebut disebut dengan bahasa Proto-Austronesia.

Bangsa Proto-Austronesia telah mengenal kepandaian bercocok tanam dengan cara sederhana. Mereka bercocok tanam di ladang yang dilakukan dengan cara membakar hutan. Mereka menanam keladi dan ubi jalar.

Apabila ladang sudah tidak subur lagi, maka mereka pindah ke tempat lain yang subur. Sebagai alat untuk mengolah lahan digunakan alat batu dengan bentuk yang khas, yaitu kapak lonjong.

Kapak Lonjong
Kapak Lonjong
Arah persebaran bangsa Proto-Austronesia dapat direkonstruksikan dengan mengikuti tempat persebaran kapak lonjong. Sampai sekarang kapak lonjong masih dipergunakan oleh penduduk Papua di daerah Jayawijaya sebagai kapak atau alat bercocok tanam.

Orang Papua mendapat kepandaian berladang dan menanam keladi, serta kepandaian menggunakan dan membuat kapak lonjong dari orang Proto-Austronesia di Halmahera.

Bersamaan dengan bercocok tanam dan kapak lonjong, tersebar pula bahasa Austronesia ke Papua sampai ke Kepulauan Bismarck sebelah timur Laut Papua. Kemudian bahasa tersebut terpecah dalam berbagai keluarga bahasa yang agak jauh berbeda satu dengan yang lainnya.

Untuk mengetahui peninggalan kebudayaan zaman neolitikum selengkapnya silahkan baca di artikel  sejarah : Peninggalan kebudayaan zaman Batu Muda
Read more ...