Showing posts with label Wali Sanga. Show all posts
Showing posts with label Wali Sanga. Show all posts

Tuesday, November 4, 2014

Sejarah hubungan wayang kulit dengan Wali Songo

Menurut pendapat Prof. K.H.R Moh. Adnan, wayang kulit yang ada sekarang ini bukanlah berasal dari India, melainkan ciptaan dari Wali Sanga pada zaman Kerajaan Demak Bintoro. Wayang kulit diciptakan para wali sebagai hasil permusyawaratan, untuk mengajak umat dan rakyat memeluk agama Islam.

Padahal pada waktu itu kebanyakan rakyat masih suka kepada gamelan, pertunjukan wayang kulit dan upacara adat warisan Hindu maupun Buddha. Oleh karena itu para wali mengambil siasat, kebudayaan rakyat yang telah ada tidaklah sekaligus diberantas atau ditukar.

Akan tetapi sedikit demi sedikit dimasuki ajaran-ajaran dan jiwa keIslaman, sehingga masyarakat dengan tiada paksaan telah dapat diajak memeluk agama Islam. Untuk itulah maka oleh para wali diciptakan wayang kulit yang dimaksudkan untuk dijadikan alat atau media menjalankan dakwah Islam.

Dalam hubungan ini Prof. Mr. M.M. Djojodigoeno mengatakan bahwa wayang kulit itu penuh dengan simbolik. Dalam pertunjukannya wayang kulit menggambarkan perjalanan hidup manusia, tetapi manusia yang mencari keinsyafan akan asal-usulnya (sangkan-parannya) dan bukan manusia yang hanya hidup tidak mati.

Sejarah hubungan wayang kulit dengan Wali Songo

Menurut penyelidikan Dr. G.H.J. Hazeu dan R.M. Mangkudimedja mengatakan bahwa :
1. Pertunjukan itu diciptakan oleh Sang Prabu Jayabaya pada tahun Surya 861.

2. Ketika Raden Panji Kasatriyan menjadi raja bergelar Prabu Suryamisesa di negara JEnggala, berkenan mengadakan wayang purwa. Yang menjadi dalangnya beliau sendiri, pada tahun Surya 1145.

3. Sesudah tenggelamnya kerajaan Jenggala, yang menjadi raja ialah prabu Maesakandremen, berkedudukan di kerajaan Pajajaran juga menciptakan wayang purwa mirip wayang purwa buatan Jenggala, dibuat tahun Surya 1166.

4. Pada waktu Raden Jakasesuruh menjadi raja di Majapahit bergelar Prabu Branata, berkenan membuat wayang purwa yang digambar di atas lebar, yang kemudian disebut wayang beber. Pada tahun 1283.

5. Sewaktu prabu Brawijaya I menjadi Raja di Majapahit, beliau mempunyai putra yang pandai menggambar. Sang putra ditugaskan menggambar bentuk dan corak dari wayang beber dengan beraneka warna menurut adegan masing-masing. Ketika itu pada tahun Surya 1301. Semenjak itu setiap ganti raja senantiasa wujud dan bentuk wayang juga mengalami perubahan.

6. Berkenaan dengan usul Sunan Kalijaga pada tahun 1443, para wali kemudian menciptakan wayang purwa dan dibuat satu-satu, adapun bahannya terbuat terbuat dari kulit kambing. Masing-masing wayang dijapit dengan maksud untuk tempat menancapkan, sedang tangannya wayang masih diiris seperti wayang Bathara Guru.

7. Di masa R. Trenggono menjadi Sultan III di Kerajaan Demak Bintoro, pada tahun Candra 1447, juga berkenan menciptakan wayang purwa dengan menatah mulut, mata dan telinganya.

8. Pada waktu Susuhunan Ratu Tunggul di Giri mewakili raja di Demak, pada tahun Candra 1480 juga membuat wayang purwa dari kulit. Tetapi wujudnya diperkecil dan kemudian disebut wayang kidang kencanan. Wayang perempuan diberi perlengkapan anting-anting, kroncong dll. Sedangkan wayang laki-laki rambutnya ada yang dikonde ada yang tidak.

9. Zaman Jaka Tingkir menjadi Sultan di Pajang bergelar Sultan Hadiwijaya, beliau juga berkenan menciptakan wayang purwa. Namun ada perubahan sedikit, ketika itu pada tahun 1505.

10. Tatkala Panembahan Senopati menjadi raja di Mataram, beliau juga berkenan membuat wayang purwa, adapun induknya wayang ciptaan Pajang, dibuat pada tahun Candra 1542.

11. Ketika zaman Susuhunan Prabu Nyakrawati di Mataram, beliau juga berkenan membuat wayang purwa, dengan mengambil induk wayang kidang kencana, hanya diadakan perubahan sedikit, dibuat pada tahun candra 1552.

12. Pada masa Susuhunan Kanjeng Sultan Hanyokrokusumo menjadi raja di Mataram (Mataram ke III), beliau juga membuat wayang purwa.

Demikianlah perubahan dan perkembangan kehidupan wayang purwa di tanah Jawa khususnya. Dari sejak dikenal dalam masyarakat kita sampai mengalami beberapa periode, hingga sampai kepada zaman kewalian, Pajang dan Mataram.

Hal yang kita sebutkan di atas menunjukkan bahwa pada zaman kewalianpun soal wayang tidaklah luput dari perhatian mereka untuk disesuaikan dengan jiwa dan ajaran-ajaran Islam. Hal ini menunjukkan betapa jauh fikiran dan pandangan para wali ketika itu. Wayang yang sejak dahulu menjadi cabang kesenian yang digemari oleh para wali dipakai sebagai alat pemikat rakyat untuk masuk agama Islam.

Inilah sekelumit dari cerita wayang kulit yang pernah dipergunakan oleh para wali sanga dalam mendidik moral dan watak masyarakat Indonesia dalam menghadapi perjuangan hidup yang penuh dengan aneka macam ujian dan rintangan ini, dalam rangka da'wah Islam dan zamannya.

Sekian dahulu perjalanan dan perkembangan kewayangan. Bisa kita bayangkan betapa besar perjuangan dan pengorbanan para wali di Jawa khususnya dalam rangka untuk menarik rakyat yang pada zaman itu masih memeluk agama Hindu dan Buddha ke agama Islam. Para wali senantiasa menempuh jalan kebijaksanaan. Ini merupakan sejarah yang tidak bisa terlupakan begitu saja.
Read more ...

Monday, November 3, 2014

Mengapa Syekh Siti Jenar dianggap sesat

Dalam mempelajari sejarah Wali Sanga, kiranya belum lengkap jika kita tidak membahas pula tentang siapa Syekh Siti Jenar. Meskipun cerita mengenai dirinya masih penuh diliputi  rahasia dan tanda tanya, begitu pula keanggotaannya dalam kewalian juga masih menjadi perselisihan pendapat diantara para ahli sejarah.

Sebagian ada yang mengatakan bahwa Syekh Siti Jenar ini termasuk salah seorang wal;i sembilan atau wali songo yang terkenal di Jawa. Hanya karena beliau dipandang sudah menyimpang dari dasar agama, karena kurang mengindahkan syariat sama sekali, maka akhirnya beliau tidak diperkenankan lagi mengajar, serta dikeluarkan dari keanggotaan wali. Bahkan kabarnya beliaupun dihukum mati, disebabkan oleh karena ajaran-ajaran beliau dianggap menyesatkan.

Disamping itu, ada yang berpendapat andaikatapun benar beliau dipecat, beliau juga menjadi wali, akan tetapi bukan termasuk wali sembilan.

Mungkin kita bertanya : Siapakah Syekh Siti Jenar? Nama Siti Jenar sudah jelas, bahwa ini bukanlah nama yang sesungguhnya, melainkan nama saramaran (julukan, parapan), seperti halnya Sunan Kalijaga yang memiliki julukan Syekh Malaya.

Menurut legenda yang hidup di kalangan masyarakat hingga sekarang, konon katanya nama Syekh Siti Jenar itu berarti Tanah Merah, Siti artinya tanah, yang dalam bahasa Jawa lemah, sedangkan Jenar artinya merah, yang dalam bahasa Jawa bang atau abang. Sehingga dalam babad kemudian terkenal dengan sebutan Syekh Lemah Bang atau Lemah Brit. Padahal Jenar artinya kuning.

Kemudian dari mana asal mula Syekh Siti Jenar? Apakah beliau berasal dari tanah Arab (Persia), India ataukah asli orang Jawa? Sampai sekarang hal itu belum diketahui dengan pasti.

Dalam hal ini, Oemar Amin Hoesin seorang bekas attache pers, pada kedutaan Republik Indonesia di Mesir berpendapat : bahwa Siti Jenar itu mungkin adalah ucapan salah satu perkataan Sidi Jinnar dari bahasa Persia yang berarti : Siti = tuan, dan jinnar adalah orang yang kekuatannya seperti api.

Hal ini dihubungkan dengan pula dengan kepercayaan dan hubungan kebudayaan yang ada antara bangsa Indonesia dengan Persia. Sebab di dalam buku Persia banyak nama atau perkataan-perkataan yang berakhiran : annar, nar, Naynar, dan sebagainya.

Diantara ucapan-ucapan Syekh Siti Jenar adalah sebagai berikut :
"Saya inilah Allah! Saya sebetulnya bernama Ptabu Satmata (Hyang Manon) dan tiadalah yang lain dengan nama Ketuhanan".

Kemudian katanya :
"Syekh Siti Jenar Bang yektinipun,
ing kene ora ana, 
amung Pangeran sejati
................................"

Artinya Syekh Siti Jenar sesungguhnya tak ada di sini, yang ada hanyalah Tuhan yang sejati.
Ujarnya pula demikian :
"Awit Seh Lemah Bang iku,
wajahing Pangeran jati
nadyan sira ngaturana
ing Pangeran kang sejati
jejuluk Prabu Satmata
tan ana liyan jatine
ingkang aran bangsa Allah

Artinya : jangan kebanyakan semu, saya inilah Allah. Saya sebetulnya bernama Prabu Satmata, dan tiadalah yang lain dengan nama Ketuhanan.

Oleh karena segala ucapan-ucapan dan ajaran-ajaran Syekh Siti Jenar ini dipandang sangat membahayakan rakyat, maka akhirnya beliaupun di hukum mati oleh para wali.

Jikalau kita ikuti segala ucapan Syekh Siti Jenar tersebut di atas, maka hal itu mengingatkan kita kepada ajaran-ajaran dan ucapan-ucapan salah seorang ,isticus yang masyhur, yaitu Al Hallaj (858 - 992 M). Sebagaimana diketahui bahwa Al Hallaj pernah berkata :

"Anal 'I Haqq"! yang artinya sayalah kebenaran yang sejati itu.
Kemudian katanya pula : "Wa'ma fi jubbati illa-Lah", yang artinya : dan tidak ada yang dalam jubah, melainkan Allah.

Disamping itu, Al Hallaj juga pernah mengatakan :
"Telah bercampur Rohmu dalam RohKu
laksana bercampurnya chamar dengan air jernih,
Bila menyentuh akanMu sesuatu
tersentuhlah aku
Sebab itu Engkau adalah aku, dalam segala hal.

Demikianlah pandangan hidupnya. Ucapan dan ajarannya inilah yang mengakibatkan dia dihukum mati diatas tiang gantungan, karena dianggap berbahaya dan menyesatkan oleh pemerintah Bagdad.

Kedua ahli mistik baik Al Hallaj maupun Syekh Siti Jenar fahamnya adalah condong kepada ajaran Pantheisme, kesatuan antara makhluk dengan Khalik Maha Penciptanya. Dan keduanya pun mengalami pula nasib yang sama, karena mereka harus menebus keyakinan hidupnya dengan hukuman mati.

Kemudian kita dapati pula ucapan Syekh Siti Jenar yang lain yang isinya tampak lebih mengutamakan hakekat daripada syari'at, katanya demikian :

"Sadat salat puwasa kawuri, apa dene jakat lawan pitrah, ujar iku dora kabeh, nora kena ginugu, Islam tetap durjananing budi, ngapusi keyhing titah, sinung swarga besuk e, wong bodo kanut, ulama tur nyatane pada bae nora uning, beda Syekh Siti Jenar.

Selanjutnya berkatalah Siti Jenar :
"Tan mituhu salat lawan dikir, jengkang-jengking neng masjid ting krembyah, nora nana ganjarane, yen wus ngapal bathukmu, sejatine tanpa pinanggih, neng ndonya bae pada susah amemikul, lara sangsaya tan beda, marma Siti Jenar muing madep wajidi, Gusti Dat roning kamal".

Demikianlah antara lain pandangan hidup serta ajaran dari Syekh Siti Jenar. Dalam riwayat sejarah dikatakan bahwa diantara murid Syekh Siti Jenar antara lain : Ki Ageng Tingkir, Ki Ageng Pengging, Pangeran Panggung, dan Ki Lontang.
Read more ...

Sunday, November 2, 2014

Kisah Faletehan, Sang Sunan Gunungjati

Faletehan atau Fatakhillah yang kemudian terkenal dengan Sunan Gunungjati, menurut keterangan beberapa ahli beliau berasal dari Pasai, sebelah utara Aceh. Akan tetapi ada juga yang mengatakan bahwa Sunan Gunungjati berasal dari Persia. Masa kelahirannya belum diketahui dengan pasti. Hanya yang jelas menurut riwayat sejarah beliau dilahirkan di Pasai.

Ada juga yang menyatakan bahwa beliau itu putra dari raja Mekkah (Arab) yang kawin dengan putri Kerajaan Pajajaran (Sunda). Mengenai namanya pun belum terdapat kesatuan pendapat diantara para ahli sejarah. Sunan Gunungjati memiliki banyak nama, antara lain :
1. Muhammad Nuruddin
2. Syekh Nurullah
3. Sayyid Kamil
4. Bulqiyyah.
5. Syekh Madzkurullah
6. Syarif Hidayatullah
7. Makhdum Jati

Kisah Faletehan, Sang Sunan Gunungjati
Sedangkan menurut babad-babad, nema Sunan Gunungjati sangatlah panjang. Yaitu : Syekh Nuruddin Ibrahim Ibnu Israil, Syarif Hidayatullah, Said Kamil, Maulana Makhdum Rahmatullah. Dan kemudian setelah mangkatnya digelarkan dengan sebutan Sunan Gunungjati.

Manurut Barros, salah seorang ahli sejarah Portugis, Sunan Gunungjati itu bernama Faletehan.

Akan tetapi, menurut Fernao Mendes Pinto, seorang pengembara Portugis yang pernah datang ke tanah Jawa menceritakan bahwa pada tahun 1546 raja Sunda bernama Taragil. Mengenai nama Taragil ini Prof. Dr. A. Hoesin Djajadiningrat berpendapat bahwa Taragil itu salah ucapan dari kata Fakhril.

Kemudian mengenai nama Sunan Gunungjati menurut dugaan Prof. Dr. A. Hoesin Djajadiningrat, yang dimaksudkan dengan Faletehan kemungkinan berasal dari bahasa Arab Fatkhan, dari kata Fath. Hal ini mengingat bahwa dalam tahun 1919 ada seorang Naib dari kawedanan Singen Lor, di Semarang yang bernama Hajai Mohammad Fatkhan.

Menurut penyelidikan Dr. B. J. O. Schrieke, salah seorang Orientalis Barat yang terkenal mengatakan bahwa nama Faletehan itu mungkin berasal dari perkataan Arab : Fatahillah.

Adapun yang mengidentifisir nama Faletehan dengan Sunan Gunungjati dengan Taragil adalah Prof. Dr. A. Hoesin Djajadiningrat.

Diceritakan Faletehan ketika masih kecil belajar agama pada orang tuanya di Pasai. Pada suatu ketika tatkala Faletehan telah menginjak dewasa daerah Pasai tempat kelahirannya diduduki oleh bangsa Portugis yang datang dari Malaka. Kota Malaka dapat direbut oleh bangsa Portugis pada tahun 1511 M.

Pendudukan Portugis atas daerah Pasai (Aceh) ini menimbulkan dendam kesumat pemuda Faletehan. Dan perasaan benci kepada penjajahpun mulai berkobar pula dalam dadanya. Akhirnya beliau menyingkir dari tanah tumpah darahnya, dan pergilah ke tanah suci Mekkah.

Di tanah suci, Faletehan menuntut ilmu serta memperdalam pengetahuannya tentang Islam. Sesudah beliau pergi merantau ke tanah Arab selama kurang lebih 3 tahun, ia mengira Portugis telah pergi meninggalkan bumi Pasai.

Tetapi kenyataannya tidaklah demikian. Mereka ternyata masih berada di sana. Hal ini menambah kepedihan hati Faletehan. Lahirnya Faletehan bertekad untuk meninggalkan tanah airnya kembali dan bertolak ke tanah Jawa.

Sudah barang tentu kedatangan Faletehan ini disambut baik oleh Kerajaan Islam Demak. Yang pada saat itu Demak berada dibawah pemerintahan Raden Trenggono, yang memerintah dari tahun 1521 - 1546 Masehi. Selengkapnya tentang siapa saja raja Demak silahkan baca di artikel Raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Demak

Pada zaman Trenggono inilah kerajaan Demak mengalami masa keemasannya. Daerah kekuasaannya semakin meluas. Di samping itu juga telah memiliki armada yang kuat, sehingga pada zaman Pati Unus (1518 - 1521) pernah menyerang Portugis di Malak, meskipun tidak berhasil.

Pada masa Sultan Trenggono pula, berkat usaha dan jasa Faletehan, beberapa daerah di Jawa Barat di Islamkan serta berada di bawah kekuasaan kerajaan Demak pula. Oleh karena itu kedatangan Faletehan ini merupakan suatu sumbangan yang besar sekali artinya bagi penyiaran dan penyebaran Islam selanjutnya.

Berhubung dengan itu untuk memikat hati pemuda Faletehan, agar merasa senang dan tetap tinggal di Jawa, maka dikawinkanlah Faletehan dengan adik Raden Trenggono.

Dengan demikian, bertambah eratlah hubungan, persahabatan biasa kini menjadi kekeluargaan. Pada masa itu Jawa Barat masih merupakan daerah kekuasaan orang Hindu. Banten dan Sunda Kelapa pun masuk dalam jajahan kerajaan Pajajaran.

Maka dengan seizin R. Trenggono akhirnya dikirimlah suatu ekspedisi menuju Banten, di bawah pimpinan Faletehan untuk menyiarkan agama Islam di sana. Lama-kelamaan Banten dapat dikuasai oleh Faletehan. Kemudian ditaklukkannya pula Sunda Kelapa.

Ketika orang-orang Portugis datang di Sunda Kelapa, diusir oleh Faletehan, begitu pula dibunuhnya anak kapal yang terdampar dekat pelabuhan Sunda Kelapa (1526) dan kemudian Fransisco De Sa pun dipukul mundur oleh Faletehan dengan mendapat kerugian sehingga kembali ke Malaka (1527). Baca kisah selengkapnya di artikel sejarah : Sultan Trenggana gugur Demak pindah ke Pajang

Setahun kemudian, Cirebon jatuh pula ke tangan Faletehan (1528). Sehingga Banten, Sunda Kelapa dan Cirebon akhirnya berada di bawah kekuasaan Faletehan. Dengan demikian Sunan Gunungjati telah merintis jalan perhubungan di pantai utara dari Jawa Barat, yang menyebabkan sepanjang pesisir utara mulai dari Banten, Sunda Kelapa dan Cirebon, Demak, Jepara, Kudus, Tuban dan Gresik berada di tangan orang Islam.

Semenjak itu Sunan Gunungjati tidak lagi menetap di Demak, melainkan tetap bertempat tinggal di Cirebon hingga wafatnya. Meskipun Sunan Gunungjati telah berhasil meng-Islamkan beberapa daerah di Jawa barat, namun demikian kekuasaan tertinggi masih berada di tangan Demak.

Hanya sesudah Trenggono wafat barulah Faletehan menyatakan memisahkan diri dari ikatan Demak, yaitu tatkala di Demak terjadi perselisihan antara Sultan Adiwijaya dengan Arya Penangsang. Konon kabarnya yang memberikan gelar Sultan kepada Raden Trenggono adalah Sunan Gunungjati.

Pada tahun 1570 M, Faletehan meninggal dunia, dan dikebumikan di Gunung Jati Cirebon. Sehingga akhirnya belia dikenal dengan sebutan Sunan Gunungjati.
Read more ...

Sunan Muria yang suka membaur dengan rakyat jelata

Raden Umar Syaid atau Raden Syaid yang kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Muria adalah termasuk salah seorang dari kesembilan wali yang terkenal di Jawa. Dalam riwayat sejarah dikatakan bahwa beliau adalah putra dari Sunan Kalijaga.

Nama kecilnya ialah Raden Prawoto. Dalam perkawinannya dengan Dewi Soejinah putri Sunan Ngudung, jadi kakak dari Sunan Kudus, Sunan Muria memperoleh seorang putra yang diberi nama Pangeran Santri, dan kemudian mendapat julukan dengan Sunan Ngadilangu.

Sunan Muria yang suka membaur dengan rakyat jelata
Sunan Muria juga terhitung salah seorang penyokong dari Kerajaan Demak Bintoro yang setia, dan ikut pula dalam mendirikan masjid Demak. Semasa hidupnya, dalam menjalankan dakwah Islam yang menjadi daerah operasinya yang utama adalah di desa-desa yang letaknya jauh dari perkotaan atau pusat keramaian.

Beliau lebih suka menyendiri dan bertempat tinggal di desa, bergaul serta hidup di tengah-tengah rakyat jelata. Sunan Muria lebih suka mendidik rakyat jelata tentang agama Islam di sepanjang lereng gunung Muria, yang terletak kira-kira 18 km di sebelah utara kota Kudus sekarang.

Cara beliau menjalankan da'wah keIslaman ialah dengan mengadakan kursus-kursus terhadap kaum dagang, nelayan, pelaut dan rakyat kecil. Beliaulah kabarnya yang mempertahankan tetap berlangsungnya gamelan sebagai satu-satunya seni Jawa yang sangat digemari rakyat serta dipergunakannya untuk memasukkan rasa keIslaman ke dalam jiwa rakyat untuk mengingat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Di samping itu beliau adalah pencipta dari gending "Sinom dan Kinanti".

Kini beliau dikenal dengan sebutan Sunan Muria, oleh karena beliau dimakamkan di atas gunung Muria, yang termasuk dalam daerah Kabupaten Kudus.
Read more ...

Sunan Kudus seorang ahli fiqih yang bergelar Waliyyul ilmi

Ja'far Shodiq atau yang lebih akrab dikenal dengan sebutan Sunan Kudus menurut sejarahnya adalah putra dari R. Usman Haji yang bergelar dengan sebutan Sunan Ngudung di Jipangpanolan yang dikatakan terletak di sebelah utara Blora.

Dalam hubungannya dengan ini, di dalam sejarah kita mengenal seorang wali yang terkenal di Iran yang hidup pada abad ke VIII yang juga memiliki nama Ja'far Shodiq, seorang imam Syi'ah yang keenam.

Semasa hidupnya Sunan Kudus mengajarkan agama Islam di sekitar daerah Kudus khususnya, dan di Jawa Tengah pesisir utara umumnya. Beliau terhitung salah seorang ulama, guru besar agama yang telah mengajar serta menyiarkan agama Islam di daerah Kudus dan sekitarnya.

Sunan Kudus terkenal dengan keahliannya dalam ilmu agama, terutama ilmu tauhid, usul, hadits, sastra mantiq dan lebih-lebih di dalam ilmu fiqih. Oleh sebab itu beliau digelari dengan sebutan sebagai Waliyyul 'ilmi.

Sunan Kudus seorang ahli fiqih yang bergelar Waliyyul ilmiMenurut riwayat beliau juga termasuk salah seorang pujangga yang berinisiatif mengarang cerita-cerita pendek yang berisi filsafat serta berjiwa agama. Diantara buah ciptaannya yang dikenal adalah Gending atau tembang Maskumambang dan Mijil.

Adapun Imam Ja'far Shodiq yang terkenal di Iran itu tidak saja sebagai seorang imam dari kaum Syi'ah, akan tetapi juga sebagai seorang yang terkemuka dalam soal hukum dan ilmu pengetahuan lainnya.

Dengan demikian, maka menurut hemat kita Ja'far Shodiq yang terkenal di Iran sebagai seorang wali, seorang imam dari golongan Syi'ah yang amat dipuja serta dihormati tersebut kiranya bukanlah Ja'far Shodiq seorang wali yang menjadi salah seorang anggota dari kesembilan wali di Jawa, yang makamnya terdapat di kota Kudus, dan terkenal dengan sebutan Sunan Kudus.

Disamping bertindak sebagai guru agama, beliau juga sebagai salah seorang yang kuat syariatnya, Sunan Kuduspun menjadi senopati dari kerajaan Islam di Demak.

Yang termasuk bekas peninggalan Sunan Kudus adalah Masjid Raya di Kudus yang kemudian dikenal dengan sebutan Masjid Menara Kudus. Di halaman masjid tersebut terdapat sebuah menara kuno yang indah.

Menurut dongeng atau legenda, mengenai asal-usul nama Kudus yang hidup di kalangan masyarakat setempat adalah bahwa dahulu Sunan Kudus pernah pergi naik haji sambil menuntut ilmu di tanah Arab. Kemudian beliaupun mengajar pula di sana. Pada suatu masa, di tanah Arab konon berjangkit suatu wabah penyakit yang membahayakan.

Penyakit tersebut menjadi reda berkat jasa Sunan Kudus. Oleh karena itu, seorang Amir di sana berkenan untuk memberikan suatu hadiah kepada beliau. Akan tetapi beliau menolak, hanya kenang-kenangan beliau meminta sebuah batu.

Batu tersebut katanya berasal dari kota Baitul Makdis, atau Jeruzalem, maka sebagai peringatan kepada kota di mana Ja'far Shodiq hidup serta bertempat tinggal, kemudian diberikan nama Kudus. Bahkan menara yang terdapat di depan masjid itupun juga menjadi terkenal dengan sebutan menara Kudus.

Adapun mengenai nama Kudus atau Al Kudus ini di dalam buku Encyclopaedia Islam antara lain disebutkan :
"Al Kuds, the usual Arabic name for Jerusalem in later times. The Older writers call it commonly Bait al Makdis (according to some : Mukaddas), with really meant the temple (of Solomon), a Translation of the Hebrew Bethamikdath, but it because applied to the whole town".

Mengenai perjuangan Sunan Kudus dalam menyebarkan agama Islam tidaklah berbeda dengan para wali lainnya, yaitu senantiasa menggunakan jalan kebijaksanaan. Dengan siasat dan taktik yang demikian itu, rakyat dapat diajak memeluk agama Islam.
Read more ...

Sunan Kalijaga ahli dalam berbagai bidang seni

Raden Mas Said atau yang kemudian bergelar dengan sebutan Sunan Kalijaga adalah putra dari Ki Tumenggung Wilatikta, bupati Tuban. Ada pula yang mengatakan bahwa nama lengkap ayah Sunan Kalijaga adalah R. Sahur Tumenggung Wilatikta, dikatakan dalam riwayat bahwa dalam perkawinannya dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishak, Sunan Kalijaga memperoleh 3 orang putra, yaitu :
1. R. Umar Said (Sunan Muria)
2. Dewi Rukayah
3. Dewi Sofiah

Diantara pra wali sembilan (Wali Songo), beliau terkenal sebagai seorang wali yang berjiwa besar. Seorang pemimpin, pejuang, muballigh, pujangga, dan filosuf. Daerah operasinya tidak terbatas, oleh karena beliau terhitung seorang "Reizende Muballigh" (Muballigh Keliling). Jikalau beliau bertabligh, senantiasa diikuti oleh para kaum ningrat dan sarjana.

Kaum bangsawan dan cendekiawan amat simpatik kepada beliau, karena caranya menyiarkan agama Islam yang disesuaikan dengan aliran zaman. Sunan Kalijaga adalah seirang wali yang kritis, banyak toleransi dalam pergaulannya dan berpandangan jauh serta berperasaan dalam.

Semasa hidupnya, Sunan Kalijaga terhitung seorang wali yang ternama serta disegani. Beliau terkenal sebagai seorang pujangga yang berinisiatif mengarang cerita-cerita wayang yang disesuaikan dengan ajaran Islam.

Dengan kata lain, dalam cerita wayang itu dimasukkan sebanyak mungkin unsur-unsur keislaman. Hal ini dilakukan karena pertimbangan bahwa masyarakat Jawa pada waktu itu masih tebal kepercayaannya terhadap Hinduisme dan Buddhisme. Atau dengan kata lain, masyarakat masih memegang teguh tradisi-tradisi atau adat istiadat lama.

Masyarakat Jawa kala itu masih suka pada pertunjukkan wayang, gemar pada gamelan, dan beberapa cabang kesenian lainnya. Sebab-sebab inilah yang mendorong Sunan Kalijaga sebagai salah seorang muballigh untuk memeras otak, mengatur siasat, yaitu menempuh jalan mengawinkan adat istiadat lama dengan ajaran-ajaran Islam (asimilasi kebudayaan). Jalan dan cara yang ditempuh adalah berdasarkan atas kebijakan para wali sembilan dalam mengembangkan agama Islam.

Nama Sunan Kalijaga hingga kini masih tetap harum dan dikenal balik oleh seluruh lapisan masyarakat. Hal ini merupakan bukti bahwa beliau benar-benar manusia besar, besar jiwa dan besar pula jasanya.

Sebagai seorang pujangga, beliau telah banyak mengarang berbagai cerita yang mengandung filsafat serta berjiwa agama, seni lukis yang bernafaskan Islam, seni suara yang berjiwakan tauhid. Disamping itu, beliau berjasa pula bagi perkembangan dari kehidupan wayang kulit yang ada sekarang ini.

Sunan Kalijaga adalah pengarang dari kitab-kitab cerita wayang kulit dramatis serta diberi jiwa agama. Banyak cerita yang dibuatnya yang menggambarkan ethik keIslaman. Kesusilaan dalam hidup sepanjang tuntunan dan ajaran Islam hanya diselipkan ke dalam cerita pewayangan. Oleh karena itu, Sunan Kalijaga mengetahui bahwa pada saati tiu keadaan masyarakat menghendaki yang sedemikian. Maka taktik perjuangan beliaupun disesuaikan dengan keadaan ruang dan waktu.

Sunan Kalijaga ahli dalam berbagai bidang seniBerhubung pada waktu itu sedikit para pemeluk agama Syiwa Buddha yang fanatik terhadap ajaran agamanya, maka akan berbahaya sekali jika penyebaran agama Islam tidak dilakukan dengan cara yang bijaksana. Para wali yang di dalamnya termasuk Sunan Kalijaga mengetahui bahwa rakyat dari Kerajaan Majaphit masih lekat sekali kepada kesenian dan kebudayaan mereka, diantaranya masih gemar pada gamelan dan keramaian yang bersifat keagamaan Syiwa - Buddha.

Maka setelah diadakan permusyawarahan para wali, dapatlah diketemukan suatu cara yang lebih supel, dengan maksud untuk mengislamkan orang-orang yang belum masuk Islam. Cara ini ditemukan oleh Sunan Kalijaga, salah seoarang yang berjiwa besar, berpandangan jauh, berfikiran tajam, serta berasal dari suku Jawa asli.

Disamping itu, beliau juga ahli seni dan faham pula akan gamelan serta gending-gending (lagu-lagunya). Maka dipesanlah oleh Sunan Kalijaga kepada ahlu gamelan utnuk membuatkan serancak gamelan, yang kemudian diberinya nama "Kyai Sekati".  Hal itu adalah dimaksudkan untuk mengembangkan agama Islam.

Menurut adat kebiasaan pada setiap tahun, sesudah konferensi besar para wali, di serambi masjid Demak diadakan perayaan Maulid Nabi yang diramaikan dengan rabana bahasa Jawa (terbangan) menurut irama seni Arab.

Oleh Sunan Kalijaga, hal ini akan disempurnakan dengan pengertian disesuaikan dengan alam fikiran masyarakat Jawa. Maka gamelan yang telah dipesan itupun di tempatkan di atas pagengan, yaitu sebuah tarub yang tempatnya di depan halaman masjid Demak, dengan dihiasi beraneka macam bunga-bungaan yang indah. Gapura masjidpun dihiasi pula, sehingga banyak rakyat yang tertarik untuk berkunjung ke sana. Gamelan itupun dipukul bertalu-talu dengan tiada henti-hentinya.

Kemudian di muka gapura masjid tampillah ke depan podium berganti-ganti para wali memberikan wejangan serta nasihat-nasihatnya. Uraian yang diberikan dengan gaya bahasa yang sangat menarik, sehingga orang yang mendengarkan hatinya akan tertarik untuk masuk ke dalam masjid untuk mendekati gamelan yang sedang ditabuh.

Mereka diperbolehkan ke dalam masjid akan tetapi harus terlebih dahulu mengambil air wudlu di kolam masjid melalui pintu gapura. Upacara yang demikian ini mengandung simbolik, yang diartikan bahwa bagi barang siapa yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat kemudian masuk ke dalam masjid melalui gapura (dari bahasa Arab Ghapura), maka berarti bahwa segala dosanya sudah diampuni oleh Tuhan.

Demikianlah salah satu cara perjuangan yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga. Sungguh besar jasa Sunan Kalijaga terhadap kesenian dan agama. Tidak hanya dalam lapangan seni suara saja, akan tetapi juga meliputi seni drama wayang kulit, seni gamelan, seni lukis, seni pakaian, seni ukir, seni pahat, dan juga dalam lapangan kesusasteraan.

Banyak corak batik yang dibuat oleh Sunan Kalijaga (periode Demak) diberi motif burung dalam beraneka macam burung. Sebagai gambar ilustrasi, perwujudan burung itu memanglah sangat indah, akan tetapi lebih indah lagi dia sebagai isyarat pendidikan dan pengajaran budi pekerti. Di dalam bahasa Kawi, burung disebut kukila. Dan kata bahasa Kawi ini jika dalam bahasa Arab adalah rangkaian kata Quu dan qilla atau quuqiila yang artinya "peliharalah ucapan (mulut) mu".

Hal ini dimaksudkan bahwa kain pakaian yang bermotif kukila atau burung itu senantiasa memperingatkan atau mendidik dan mengajarkan kepada kita agar selalu baik dalam tutur kata. Inilah diantara jasa Sunan Kalijaga dalam bidang seni lukis.

Selain itu, Sunan Kalijaga juga berjasa dalam hal seni pakaian. Dalam hubungan ini dibuatnya model baju kaum pria yang diberinya nama baju "Takwo". Nama tersebut berasal dari kata bahasa Arab "taqwa" yang artinya taat serta berbakti kepada Allah SWT.

Nama yang simbolik sifatnya ini dimaksudkan untuk mendidik kita agar selalu mengatur cara hidup dan kehidupan kita sesuai dengan tuntunan agama.

Nama Kalijaga sendiri menurut sejarahnya dikatakan berasal dari rangkaian bahasa Arab : Qadli Zaka, Qadli artinya pelaksana, penghulu, Sengkan Zaka artinya membersihkan. Jadi Qodlizaka atau yang kemudian menurut lidah dan ejaan kita sekarang berubah menjadi Kalijaga itu artinya ialah pelaksana atau pemimpin yang menegakkan kebersihan (kesucian) dan kebenaran agama Islam.

Konon kabarnya Sunan Kalijaga itu usianya termasuk lanjut pula, sehingga dalam masa hidupnya beliau mengalami 3 kali masa pemerintahan. Pertama zaman akhir kerajaan Majapahit, kedua zaman kerajaan Islam Demak, dan ketiga zaman kerajaan Pajang.

Menurut pengakuan Presiden Soekarno almarhum, dalam pidatonya peringatan Nuzulul Qur'an di kota Demak, Bung Karno mengatakan bahwa beliau itu berasal dari keturunan Sunan Kalijaga.

Adapun tahun kelahiran maupun wafatnya Sunan Kalijaga tidak diketahui dengan pasti. Hanya diketahui bahwa jenazahnya di kebumikan di Desa Kadilangu, termasuk daerah Kabupaten Demak, yang terletak di sebelah timur laut dari kota Bintoro Demak.
Read more ...

Saturday, November 1, 2014

Sunan Drajat seorang yang berjiwa sosialis

Syarifuddin atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Drajat (di Sedayu) adalah seorang putra dari Sunan Ampeldenta (Sunan Ampel). Sebagaimana ayahnya, maka putranya inipun kemudian menjadi seorang penganjur pula dalam agama Islam.

Beliau pun ikut pula mendirikan kerajaan Silam di Demak dan menjadi penyokongnya yang setia. Daerah operasinya antara lain di daerah Jawa Timur. Sunan Drajat adalah seorang sosiawan Islam, seorang Waliyullah yang berjiwa sosial.

Dalam menjalankan agama, beliau tidak segan-segan memberikan pertolongan kepada kesengsaraan umum, seperti membela anak-anak yatim piatu, orang-orang sakit, fakir miskin, dan lain-lain.

Sunan Drajat seorang yang berjiwa sosialis
Konon kabarnya Sunan Drajat adalah pencipta gending Pangkur. Apabila dikatakan bahwa Syarifoeddin atau Sunan Drajat itu mempunyai jiwa sosial, maka hal itu adalah benar. Karena pada hakekatnya setiap pribadi muslim itu adalah juga seorang sosialis. Bukanlah muslim namanya jikalau dia tidak berjiwa sosial. Sebab memang demikianlah ajaran di dalam agama Islam.

Jadi, bilamana Sunan Drajat memberi contoh serta menganjurkan kepada rakyat agar memiliki jiwa sosial serta menganjurkan agar supaya rakyat suka menolong para fakir miskin yang sedang mengalami penderitaan dan kesempitan, maka hal itu adalah sesuai dengan tuntunan agama, Islam khususnya.

Islam mengajarkan bahwa apabila di sekitar kita terdapat orang yang kelaparan, maka berdosalah kita semua. Jadi, agama melarang kita sendiri hidup dalam lautan kenikmatan dan kemewahan, sedangkan lainnya hidup dalam kesengsaraan dan kemiskinan.

Karena agama Islam memang tidak membenarkan adanya individualisme dan egoisme, melainkan ialah rasa kollektivisme, hidup dalam kerukunan dan suasana gotong-royong, tolong-menolong, bahu-membahu, hidup dalam alam persaudaraan (broederschap).

Jauh sebelum di Barat timbul semboyan egalite dan fraternite, maka Islam telah mengajarkan kepada setiap pemeluknya untuk menanamkan rasa persaudaraan dan kerukunan. Tidakkah Islam mengatakan bahwa sebaik-baiknya manusia di dunia ini, ialah manusia yang bermanfaat bagi sesamanya. Apa itu egalite dan fraternite? Silahkan baca artikel Sejarah terjadinya Revolusi Prancis atau Hak asasi manusia sejak zaman Nabi Musa

Demikianlah intisari dari ajaran yang terkandung di dalam Islam. Dan itulah yang dipraktekkan oleh Sunan Drajat semasa hidupnya.
Read more ...

Sekilas sejarah Sunan Giri

Sejarah Nasional dan Dunia. Sewaktu Sunan Ampel masih hidup, di Gresik, Jawa Timur ada pula seorang penganjur agama yang terkenal, yaitu bernama Raden Paku, disebut juga sebagai Prabu Satmata atau Sultan Abdul Fakih. Beliau adalah putera Maulana Ishak dari Blambangan (di Jawa Timur), Maulana Ishak dikatakan dari Blambangan, oleh karena itu beliau ditugaskan oleh Sunan Ampel untuk menyebarkan agama Islam di daerah Blambangan yang pada masa itu masih kuat memeluk agama Hindu dan Buddha.

Berhubung ayahnya ke Pasai dan tidak kembali lagi ke tanah Jawa, maka Raden Paku kemudian diambil sebagai putra angkat oleh salah seorang wanita kaya bernama Nyi Gede Maloka. Dalam Babad Tanah Jawa disebut Nyai Ageng Tandes atau Nyai Ageng saja.

Sekilas sejarah Sunan Giri
Sesudah besar, beliau disekolahkan ke Ampel untuk berguru kepada Raden Rakhmat atau Sunan Ampel. Di sana Raden Paku bertemu dengan Maulana Makdum Ibrahim, putra-putra Sunan Ampel yang kemudian bergelar Sunan Bonang.

Kemudian bersama-sama dengan Maulana Makdum Ibrahim, Raden Paku oleh Sunan Ampel di suruh pergi haji ke tanah suci sambil memperdalam ilmunya. Tetapi sebelum mereka sampai di tanah suci singgah terlebih dahulu di Pasai (Aceh) untuk menuntut ilmu kepada para ulama di sana.

Yang dimaksud ilmu disini adalah ilmu keTuhanan menurut ajaran tasawuf. Konon kabarnya memang banyak ulama-ulama keturunan India dan Persia yang membuka pengajian di Pasai saat itu. Bahkan banyak pula ulama dari Malaka juga datang untuk bertanya tentang suatu masalah ke Pasai.

Sesudah kedua tunas muda itu selesai menuntut pelajaran di sana, merekapun kembalilah ke tanah Jawa. Raden Paku berhasil mendapat "ilmu laduni", sehingga gurunya di Pasai memberinya nama "Ainul Yaqin".

Sekembalinya Raden Paku di tanah Jawa, kemudian ia mengajarkan agama Islam menurut bakatnya. Raden Paku atau Syekh Ainul Yaqin mengadakan tempat berkumpul yang boleh disebut pondok pesantren yang terketak di Giri, di mana murid-muridnya terdiri dari orang-orang kecil atau rakyat jelata. Maka dari itu, beliau dikenal dengan nama Sunan Giri.

Sungguh besar jasa Sunan Giri semasa hidupnya. Karena beliaulah yang mengirimkan utusan (mission secree) ke luar Jawa. Mereka terdiri dari pelajar, saudagar, dan nelayan. Mereka dikirim oleh Sunan Giri ke pulau Madura, Bawean, dan Kagean. Bahkan sampai ke Ternate dan Haruku di kepulauan Maluku.

Sunan Giri memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap jalannya roda pemerintahan di kerajaan Islam Demak Bintoro. Sehingga sesuatu soal yang penting senantiasa menantikan sikap dan keputusan yang diambil Sunan Giri. Oleh para wali lainnya beliau dihormati serta disegani.

Pada waktu itu Giri adalah menjadi sumber ilmu keagamaan, dan termasyhur hingga ke seluruh Tanah Jawa dan sekelilingnya. Dari segala penjuru baik dari kalangan atas maupun kalangan bawah banyak yang datang ke Giri untuk berguru kepada Sunan Giri.

Menurut beberapa sumber sejarah, Sunan Girilah yang kabarnya menciptakan tembang atau gending Asmaradana dan Pucung. Daerah penyiaran agama Sunan Giri sampai ke Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara dan Madura. Menurut setengah riwayat, Sunan Girilah yang menghukum Syekh Siti Jenar, karena telah mengajarkan ilmu yang berbahaya pada rakyat.

Sunan Giri terhitung seorang ahli pendidik (paedagoog) yang berjiwa demokratis. Beliau mendidik anak-anak dengan jalan membuat bermacam-macam permainan yang berjiwa agama. Misalnya, Jelungan, Jamuran, Gendi Gerit, Jor, Gula Ganti, Cublak-cublak Suweng, Ilir-ilir dan sebagainya.

Beberapa permainan anak-anaka tanah Jawa lainnya hasil gubahan Sunan Giri adalah Jitungan atau Jelungan. Adapun cara permainan ini adalah sebagai berikut :

Anak-anak banyak, satu diantaranya menjadi pemburu, lainnya jadi buruan. Mereka ini akan selamat atau bebas dari terkaman pemburunya apabila telah berpegangan pada Jitungan, yaitu satu pohon, tiang atau tonggak yang telah ditentukan terlebih dahulu.

Permainan Jetungan/jelungan ini dimaksudkan untuk mendidik pengertian tentang keselamatan hidup. Yaitu : bahwa apabila sudah berpegang kepada agama yang berdasarkan ke Tuhanan Yang Maha Esa sajalah maka manusia (buruan) itu akan selamat dari terkaman iblis (pemburunya).

Disamping itu diajarkannya pula nyanyian-nyanyian untuk kanak-kanak yang bersifat paedagogis serta berjiwa agama. Diantaranya adalah berupa Tembang Dolanan Bocah (lagu permainan anak-anak yang berbunyi sebagai berikut :

"Padang-padang bulan, ayo gage dha dolanan, dolane aneng latar, ngalap padang gilar-gilar, nundhung begog hangatikar".

Yang dalam bahasa Indonesia artinya : Terang bulan, marilah lekas bermain, bermain di halaman, mengambil manfaat dari terang benderang, mengusir gelap yang lari terbirit-birit.

Adapun maksud dari tembang di atas ialah : Agama Islam (bulan) telah datang memberi penerangan hidup, maka marilah segera menuntut penghidupan (dolanan, bermain) di bumi ini (latar, halaman) akan mengambil manfaat ilmu agama Islam (padang gilar-gilar, terang benderang) itu, agar sesat kebodohan diri (begog, gelap) segera terusir.

Disamping itu, terkenal pula tembang buat anak-anak yang bernama Ilir-ilir, yang isisnya mengandung filsafat serta berjiwa agama. Syair tembang ilir-ilir berbunyi sebagai berikut :

"Lir-ilir, tandure wus sumilir, Sing ijo royo-royo, tak sengguh penganten anyar. Cah angon, cah angon, penekna blimbing kuwi. lunyu-lunyu penekna kanggo masuh dadatira. Dodotira-dodotira kumitir bedhah ing pinggir, dondomana jrumatana, kanggo seba mengko sore. Mumpung gedhe rembulane, mempung jembar kalangane, ndak surak surak hore."

Adapun maksud atau arti dari tembang ilir-ilir ciptaan Sunan Giri ini jika diterjemahkan dalam bahasa Indoensia kurang lebihnya sebagai berikut :

Sang bayi yang baru lahir di dalam dunia ini masih suci bersih, murni, sehingga ibarat seperti pengantin baru, siapa saja ingin memandangnya, "Bocah Angon" (pengembala) itu diumpamakan santri, mualim, artinya orang yang menjalankan syariat agama.

Sedangkan "Blimbing" diibaratkan blimbing itu mempunyai/terdiri dari lima belahannya. Maksudnya untuk menjalankan sembahyang lima waktu. Meskipun lunyu-lunyu (licin), tolong panjatkan juga, kendatipun sembah yang itu susah, namun kerjakanlah, buat membasuh "Dodotira-dodotira" kumitir bedhah ing pinggir, maksudnya kendatipun sholat itu susah, tetapi kerjakanlah guna membasuh hati dan jiwa kita yang kotor ini.

Dondomono, jrumatana, kanggo seba mengko sore, dak surak surak hore. Maksudnya :bahwa orang hidup di dunia ini senantiasa condong ke arah berbuat dosa, segan mengerjakan yang baik dan benar serta utama, sehingga dengan manjalankan sholat ini diharapkan besok dikelak kemudian dapat kita buat sebagai bekal itu ialah beramal saleh.

Itulah antara lain buah cipataan Sunan Giri. Namun, ada pula yang mengatakan bahwa tembang ilir-ilir itu adalah ciptaan Sunan Kalijaga. Akan tetapi, mengingat bahwa di antara wali sanga, Sunan giri yang terkenal sebagai seorang pendidik yang gemar menciptakan lagu anak-anak, maka sebagian besar dugaan mengatakan bahwa lagu ilir-ilir tersebut adalah ciptaan Sunan Giri.

Jika tidak, yang pasti adalah bahwa tembang tersebut adalah ciptaan pada zaman para wali. Apakah benar itu ciptaan Sunan Kalijaga atau gubahan bersama Sunan Giri adalah soal Allahualam.

Sesudah Sunan Giri wafat, kemudian dimakamkan di atas bukit Giri (Gresik, Jawa Timur). Setelah beliau wafat, berturut-turut digantikan oleh Sunan Delem, Sunan Sedam Margi, Sunan Prapen.

Ketika Sunan Prapen pada tahun 1597 M wafat, beliau  digantikan olleh Sunan Kawis Guwa, kemudian setelah Sunan Kaiws Guwa wafat digantikan oleh Panembahan Agung.

Pada tahun 1638 Masehi, Panembahan Agung Giri digantikan oleh Panembahan Mas Witama Sideng Rana. Beliau wafat pada tahun 1660 M. Kemudian atas perintah Sunan Amangkurat I, Pangeran Puspa Ira (Singonegoro) ditempatkan di Giri.

Mulai saat itu, Sunan Amangkurat II memegang kendali pemerintahan. Giri maupun Gresik mengalami perubahan yang tidak sedikit. Akibat dari serangan Amangkurat II yang dibantu oleh kompeni akhirnya pada tanggal 27 April 1680 M jatuhlah kekuasaan Pangeran Giri ke tangan Amangkurat II.

Semenjak itu cahaya Giri mulai memudar. Hanya tinggal kenang-kenangan dalam sejarah kebangunan Islam di tanah Jawa.
Read more ...

Wednesday, October 29, 2014

Sekilas tentang perjuangan Sunan Bonang

Raden Maulana Makdum Ibrahim yang kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Bonang adalah seorang putra dari Sunan Ampel.

Berbicara tentang Sunan Bonang yang namanya didepannya tercantum kata-kata Maulana Makhdum, mengingatkan kita kembali kepada cerita di dalam Sejarah Melayu. Konon kabarnya dalam sejarah Melayu pun dahulu ada pula tersebut tentang cendekiawan Islam yang memakai gelar Makhdum, yaitu gelar yang lazim di pakai di India.

Kata atau gelar Makhdum ini merupakan sinonim kata Maula atau Malauy gelar kepada orang besar agama berasal dari kata Khodama - Yakhdumu dan infinitifnya (masdarnya) Khidmat. Dan maf' ulnya dikatakan Makhdum artinya orang yang harus dikhidmati atau dihormati karena kedudukannya dalam agama atau pemerintahan Islam di waktu itu.

Salah seorang besar yang mengepalai suatu departemen ketika terjadi pembentukan adat yang berdasarkan Islam, tatkala agama Islam memasuki Minangkabau, berpangkat Makhdum pula.

Rupanya Makhdum atau muballigh Islam yang berpangkat atau bergelar Makhdum itu datang ke Malaka pada abad ke VX, ketika Malaka mencapai puncak kejayaannya.

Sekilas tentang perjuangan Sunan BonangKembali mengenai Sunan Bonang, beliau adalah putra Sunan Ampel yang sekaligus menjadi muridnya. Adapun daerah operasinya semasa hidupnya adalah terutama Jawa Timur. Di sanalah beliau mulai berjuang menyebarkan agama Islam.

Sunan Bonang adalah putra Sunan Ampel buah perkawinannya dengan Nyai Ageng Manila, seorang putri dari Arya Teja, salah seorang Tumenggung dari kerajaan Majapahit yang berkuasa di Tuban. Menurut dugaan, Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465 M, dan wafat pada tahun 1525 M.

Semasa hidupnya Sunan Bonang dengan giat menyebarkan Islam di daerah jawa Timur, terutama di daerah Tuban dan sekitarnya. Sebagaimana halnya sang ayah, maka Sunan Bonang pun mendirikan pondok pesantren di daerah Tuban untuk mendidik serta menggembleng kader-kader Islam yang akan ikut menyiarkan agama Islam ke seluruh tanah Jawa.

Konon beliaulah yang menciptakan gending Dharma serta berusaha mengganti nama-nama hari nahas/sial menurut kepercayaan Hindu, dan nama-nama dewa Hindu yang digantinya dengan nama-nama malaikat serta nabi-nabi. Hal ini dimaksudkan untuk lebih mendekatkan hati rakyat guna diajak masuk agama Islam.

Di masa hidupnya, Sunan Bonang juga termasuk penyokong dari kerajaan Islam Demak, serta ikut mendirikan Masjid Agung Demak di kota Bintoro.

Filsafat keTuhanan Sunan Bonang adalah sebagai berikut :

"Adapun pendirian saya adalah, bahwa iman, tauhid dan makrifat itu terdiri dari pengetahuan yang sempurna. Sekiranya orang hanya mengenal makrifat saja, maka belumlah cukup, sebab ia masih insaf akan itu.

Maksud saya ialah, bahwa kesempurnaan barulah akan tercapai hanya dengan terus-menerus mengabdi kepada Tuhan. Seseorang itu tiada mempunyai gerakan sendiri, begitu oula tidak mempunyai kemauan sendiri. Dan seseorang itu adalah seumpama buta, tuli dan bisu. segala gerakannya itu datang dari Allah".

Ada kitab yang disebut Suluk Sunan Bonang yang berbahasa proza Jawa Tengahan, tetapi isinya mengenai hal-hal agama Islam, di mana kalimatnya agak terpengaruh oleh bahasa Arab. Besar kemungkinan kitab ini adalah berisi kumpulan atau himpunan catatan dari pelajaran-pelajaran yang pernah diberikan oleh Sunan Bonang semasa hidupnya kepada para muridnya.

Di dalam dongeng diceritakan bahwa pada suatu ketika pernah ada seorang pendeta Hindu yang datang untuk mengajak berdebat dengan Sunan Bonang, namun kemudian pendeta Hindu tersebut akhirnya bertaubat serta menyatakan dirinya masuk agama Islam.

Pada masa hidupnya dikatakan bahwa Sunan Bonang pernah belajar ke Pasai. Sekembalinya dari Pasai beliau memasukkan pengaruh Islam ke dalam kalangan bangsawan dari kraton Majapahit, serta mempergunakan Demak sebagai tempat berkumpul bagi para murid-muridnya.

Perjuangan Sunan Bonang diarahkan kepada menanamkan didikan Islam kepada Raden Patah, putra dari Brawijaya V, dari kerajaan Majapahit, dan menyediakan Demak sebagai tempat untuk mendirikan negara Islam, adalah tampak bersifat politis dan Sunan Bonang rupanya berhasil mewujudkan cita-citanya untuk mendirikan kerajaan Islam di Demak.

Hanya sayang sekali harapan beliau agar supaya Demak dapat menjadi pusat agama Islam untuk selamanya kiranya tidak berhasil.
Read more ...

Tuesday, October 28, 2014

Sekilas tentang Sunan Ampel

Raden Rakhmat atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Ampel adalah terkenal sebagai salah satu wali yang telah ikut pula menegakakan agama Islam. Untuk memulai usahanya, maka Raden Rakhmat membuka pondok pesantren di Ampeldenta dekat Surabaya.

Di tempat inilah dididik para pemuda Islam sebagai kader yang terdidik untuk kemudian disebarkan ke berbagai tempat di seluruh pulau Jawa. Seperti kita ketahui Raden Paku yang kemudian terkenal dengan sebutan Sunan Giri, Raden Patah yang kemudian menjadi Sultan pertama dari kerajaan Demak, Raden Makdum Ibrahim yang belakangan dikenal dengan sebutan Sunan Bonang, Syariffudin yang kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Drajat, Maulana Ishak yang pernah diutus ke daerah Blambangan untuk meng-Islamkan rakyat di sana dan lain-lain merupakan pejuang Islam bekas murid Sunan Ampel.

Sekilas tentang Sunan Ampel
Jika Maulana Malik Ibrahim adalah sebagai perintis atau pelopor yang membawa agama Islam ke tanah Jawa, maka Sunan Ampel adalah sebagai tenaga penyambung dalam melanjutkan cita-cita dan perjuangan dari Maulana Malik Ibrahim.

Dan bukan menjadi rahasia lagi bahwa Raden Rakhmat atau Sunan Ampellah yang menjadi perencana dari kerajaan Islam pertama di Jawa yaitu kerajaan Demak yang beribukota di Bintoro, dengan mengangkat Raden Patah sebagai Sultannya yang pertama.

Negara baru di Demak itu adalah hasil dari rencana Sunan Ampel. Inilah jasa beliau yang terbesar. Semasa hidupnya beliau ikut pula mendirikan Masjid Agung Demak yang dibangun kira-kira pada tahun Saka 1401 atau kira-kira bertepatan dengan tahun 1479 Masehi. Baca selengkapnya di Sekilas sejarah berdirinya Masjid Agung Demak

Tetapi ada pula yang berpendapat bahwa berdirinya masjid Demak adalah berdasarkan candrasengkala yang berbunyi sebagai berikut :
"KORI TRUS GUNANING JANMI", artinya : ialah tahun Saka 1399 atau bertepatan dengan tahun 1477 Masehi.

Adapun berdirinya kerajaan Demak Bintoro bersengkala "GENI MATI SINIRAM JANMI", artinya : api mati disiram orang.

Bagaimana pendapat Sunan Ampel terhadap berbagai masalah kepercayaan dan adat istiadat masyarakat kiranya dapatlah kita ketahui dari hasil pada permusyawaratan para wali. Pada waktu Sunan Kalijaga mengusulkan agar adat istiadat Jawa seperti selamatan, bersaji dan sebagainya itu dimasukki rasa keIslaman, mak Sunan Ampel pun bertanya :

"Apakah tidak mengkhawatirkan di kemudian hari? Bahwa adat istiadat dan upacara-upacara lama itu nanti akan dianggap sebagai ajaran Islam, sebab kalau demikian nanti apakah hal ini tidak akan menjadikan bid'ah?"

Pertanyaan Sunan Ampel ini kemudian dijawab oleh Sunan Kudus sebagai berikut :
"Saya setuju dengan pendapatnya Sunan Kalijaga, sebab menurut pelajaran agama Buddha itu ada persamaannya dengan ajaran Islam, yaitu orang kaya harus menolong kepada fakir miskin. Adapun mengenai kekhawatiran Tuan, saya mempunyai keyakinan bahwa di kemudian hari akan ada orang Islam yang akan menyempurnakannya".

Raden Rakhmat dilahirkan kira-kira tahun 1401 M, di Champa, sebagai putra dari raja Champa. Mengenai nama Champa ini juga menjadi selisih pendapat di kalangan para ahli sejarah. Jika menurut Encyclopaedia Van Nedherlandcsh Indie, Champa adalah suatu negeri kecil yang terletak di Kamboja (Indo Cina). Akan tetapi menurut Raffles, Champa itu bukan di Kamboja melainkan terletak di Aceh (Sumatera) yang sekarang bernama Jeumpa.

Hal ini besar kemungkinan, mengingat bahwa Aceh dalam sejarah terkenal sebagai daerah pertama di Indonesia yang memeluk agama Islam. Menurut riwayat diceritakan bahwa Sunan Ampel adalah putra dari Ibrahim Asmarakandi yang dikatakan berasal dari Champa dan menjadi raja di sana, kemudian wafat pada tahun 1425 M, serta dimakamkan di Tuban, Jawa Timur.

Sunan Ampel kemudian kawin dengan putri Tuban bernama Nyai Ageng Manila. Dari perkawinannya ini beliau memperoleh 4 putra, yaitu :
1. Putri Nyai Ageng Maloka.
2. Maulana Makdum Ibrahim (Sunan Bonang)
3. Syarifuddin (Sunan Drajat)
4. Putri Istri Sunan Kalijaga.

Pada waktu kerajaan Islam Demak berdiri, Sunan Ampel juga yang mengangkat serta menetapkan Raden Patah yang berkedudukan di desa Glagah Wangi yang kemudian bertukar nama menjadi Bintoro, Demak sebagai Sultan pertama di Demak dengan gelar Sultan Alam Akbar Al Fatah. Kota Demak terletak di sebelah selatan kota Kudus, sekitar 25 km.

Itulah sekilas mengenai siapa Sunan Ampel dan perjuangannya.
Read more ...

Tentang Syekh Maulana Malik Ibrahim

Maulana Malik Ibrahim dikenal juga dengan sebutan Maghribi atau Syekh Maghribi. Meskipun beliau bukan asli orang Jawa, namun beliau telah berjasa kepada masyarakat Jawa khususnya. Karena beliaulah yang mula pertama memasukkan ajaran Islam ke tanah Jawa.

Sehingga, berkat usaha dan jasanya, penduduk pulau Jawa yang kebanyakan masih beragama Hindu dan kala itu akhirnya mulai banyak yang memeluk agama Islam. Adapun dari kalangan orang-orang Hindu, hanya dari kasta-kasta Waisya dan Syudra yang dapat diajak memeluk agama Islam.

Sedangkan dari kasta-kasta lain seperti Brahmana dan Ksatria pada umumnya tidak suka memeluk Islam. Bahkan, menurut beberapa sumber tidak sedikit dari kalangan Brahmana yang lari ke pulau Bali, dan menetap di pulau Dewata tersebut. Di sanalah akhirnya mempertahankan diri hingga sekarang, dan agama mereka kemudian dikenal dengan sebutan Agama Hindu Bali.

Berikut ini gambar Maulana Malik Ibrahim, klik gambarnya jika ingin melihat dalam ukuran besar.

Tentang syekh maulana malik ibrahim
Jika dari kalangan Brahmana dan Ksatria tidak suka masuk agama Islam, hal itu mudah dimengerti, karena bagi mereka tentunya agak berat untuk duduk sama rendah dengan kaum waisya dan syudra yang selama ini mereka anggap hina.

Tetapi, dengan larinya para brahmana dan ksatria ke pulau Bali ternyata ada keuntungan bagi bangsa ini. Jika mungkin semua masuk Islam dan tidak ada yang melarikan diri ke Bali, pastilah pulau tersebut tidak menjadi pulau wisata yang terkenal dengan budayanya yang kental dan khas.

Maulana Malik Ibrahim mulai menyiarkan agama Islam di tanah Jawa ialah di daerah Jawa Timur. Dari sanalah beliau mulai menyingsingkan lengan bajunya, berjuang untuk mengembangkan agama Islam.

Adapun cara beliau menyiarkan Islam, pertama-tama ialah dengan jalan mendekati pergaulan dengan anak negeri. Dengan budi bahasa yang ramah tamah serta ketinggian akhlak, sebagaimana diajarkan dalam Islam. Hal itu senantiasa diperlihatkannya dalam pergaulan sehari-hari.

Beliau tidak menentang secara tajam kepada agama dan kepercayaan hidup dari penduduk asli. Begitu pula beliau tidak menentang secara spontan terhadap adat istiadat yang ada serta berlaku dalam masyarakat yang masih memeluk agama Hindu dan Buddha waktu itu, melainkan beliau hanya memperlihatkan keindahan dan ketinggian ajaran-ajaran dan didikan yang dibawa oleh Islam.

Berkat keramah-tamahannya, serta budi bahasa dan pergaulannya yang sopan santun itulah banyak anak negeri yang tertarik masuk ke dalam agama Islam.

Untuk mempersiapkan kader umat yang terdidik bagi melanjutkan perjuangan guna menegakkan ajaran-ajaran Islam maka dibukalah pesantren-pesantren yang merupakan perguruan Islam tempat mendidik serta menggembleng para siswa sebagai calon muballigh Islam untuk masa depan.

Bertambah banyak orang yang memeluk Islam, bertambah berat pula tugas dan pekerjaannya. Tentu saja orang-orang itu tidak dibiarkan begitu saja, Mereka harus diberi didikan dan penerangan secukupnya, sehingga keimanannya menjadi kuat dan keyakinannya menjadi kokoh.

Di dalam usaha yang demikian itu, beliau kemudian menerima tawaran dari raja negeri Cheermen. Raja Cheermen sangat berhajat ingin meng-Islamkan raja Majapahit yang masih beragama Hindu.

Dalam riwayat dikatakan, bahwa Maulana Maghribi adalah keturunan dari Zainul Abidin bin Hassan bin Ali, keterangan ini menurut buku karangan Sir Thomas Stamford Raffles.

Sebagaimana diketahui, Thomas Stamford Raffles (1781 -1826), adalah seorang ahli politik Inggris, serta bekas letnan Gubernur Inggris di tanah Jawa dari tahun 1811 - 1816 M. Ingin tahu lebih jauh bagaimana Raffles menguasai Indonesia? Baca di artikel : Kekuasaan Raffles di Indonesia dan Konvensi London

Adapun buku Thomas Stamford Raffles yang terkenal mengenai tanah Jawa adalah "History of Java", yang ditulisnya pada tahun 1817 M.

Diantara filsafat ketuhanannya, Maulana Malik Ibrahim pernah mengatakan : "Apakah yang dinamakan Allah itu? Ujarnya : "Yang dinamakan Allah ialah sesungguhnya yang diperlukan Adanya ..........................".

Menurut setengah riwayat mengatakan bahwa beliau berasal dari Persia. Bahkan Maulana Malik Ibrahim beripar dengan raja di negeri Cheermen. Mengenai letak negeri Cheermen ini masih dalam selisih para ahli sejarah. Raffles berpendapat bahwa Cheermen itu terletak di Hindustan, sedangkan ahli sejarah yang lain mengatakan bahwa Cheermen terletak di Indonesia.

Adapun mengenai nama kedua orang tuanya, kapan dan di mana beliau dilahirkan, dalam hal ini belum diketahui dengan pasti. Ada yang mengatakan bahwa beliau berasal dari Kasyan, Persia. Kapan beliau meninggal dunia? Jika ditilik dari batu nisan yang terdapat pada makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik, Jawa Timur, dekat Surabaya terukir sebagai tahun meninggalnya 882 Hijriyah atau tahun 1419 Masehi.

Di dalam sumber menyebutkan bahwa beliau itu berasal dari Gujarat India, yang rupanya disamping berniaga beliau juga menyiarkan agama Islam. Selengkapnya baca juga Cara masuknya islam ke indonesia

Makam Maulana Ibrahim terletak di kampung Gapura, Gresik, Jawa Timur. Jalan yang menuju ke makam tersebut sekarang diberi nama Jalan Malik Ibrahim.

Dalam sejarah, beliau dianggap sebagai pejuang utama serta pelopor dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa, dan besar pula jasa .
Read more ...

9 nama wali sanga

Sebagaimana kita ketahui, bahwa dalam penyiaran dan penyebaran agama Islam di Jawa pada zaman dahulu dipelopori oleh muballigh Islam yang lebih dikenal dengan sebutan "Wali". Adapun para wali ini jumlahnya ada 9 yang dianggap merupakan kepala kelompok dari sejumlah besar muballig-muballigh Islam yang bertugas mengadakan operasi di daerah-daerah yang belum memeluk agama Islam.

Adapun nama-nama Wali Sanga (Wali Songo) yang umum dikenal di kalangan masyarakat sekarang adalah terdiri sebagai berikut :
1. Maulana Malik Ibrahim
2. Sunan Ampel
3. Sunan Bonang
4. Sunan Giri
5. Sunan Drajat
6. Sunan Kalijaga
7. Sunan Kudus
8. Sunan Muria
9. Sunan Gunung Jati

Ada pula yang mengatakan bahwa Sunan Tembayat, Sunan Prawoto, Sunan Ngudung, Sunan Geseng, Sunan Benang, Sunan Mojoagung, Syekh Siti Jenar, Syekh Syubakir, Maulana Ishak dll, itu juga merupakan anggota dari kesembilan wali di Jawa. Akan tetapi yang populer serta dikenal oleh umum ialah apa yang kita sebutkan sembilan nama di atas.

Mengenai daftar nama-nama dari anggota Wali Songo ini para ahli sejarah sebetulnya masih berselisih paham, dan belum ada kesatuan pendapat. Akan tetapi, oleh karena maksud kita di sini bukanlah hendak menitikberatkan kepada nama-nama ataupun silsilah-silsilah mereka, melainkan kita disini lebih mengutamakan isi perjuangan dari para Wali Sanga tersebut di atas.

Ingin tahu bagaimana wajah Wali Songo? Silahkan lihat di Gambar lengkap Wali Sanga

Baca juga artikel Peranan para Wali/ulama dalam bidang sosial budaya, semoga menambah perbendaharaan sejarah para penyebar agama Islam.
Read more ...

Gambar lengkap Wali Sanga

Seperti telah kita ketahui khususnya masyarakat Jawa, bahwa nama Wali Sanga atau Wali Songo merupakan 9 tokoh penyebar agama Islam di Jawa. Nama kesembilan wali tersebut sangatlah populer di kalangan masyarakat Jawa.

Kesembilan wali tersebut masing-masing memiliki kelebihan. Oleh karenanya, kharisma mereka tidak pernah terlupakan di kalangan masyarakat. Cerita-cerita kesaktian maupun kearifan wali 9 benar-benar membuat catatan sejarah tersendiri yang tak pernah terlupakan.

Bukan tanpa apa-apa, kesembilan wali memiliki peninggalan bersejarah yang hingga saat ini masih ada dan dapat dilihat oleh mata. Hingga para wisatawan baik dalam maupun luar negeri selalu penasaran ingin melihat dan menelitinya.

Bagaimana wujud atau gambar Wali Songo? Bisa kita bayangkan bahwa zaman para wali belum ada kamera yang bisa digunakan untuk mengabadikan raut wajah para wali. Lalu mengapa sekarang ada gambar Wali Songo?

Menurut saya, mungkin saja dahulu ada yang melukiskan wajah mereka, sehingga sampai sekarang gambar-gambar tersebut bisa dilihat oleh semua orang. Apakah gambar atau lukisan wali sanga tersebut asli atau mirip? Secara pribadi saya tidak bisa menjawab atas kebenaran gambar tersebut. Asli atau tidak, benar atau tidak wajah wali songo seperti yang tergambar saat ini hanya Allah yang tahu.

Gambar lengkap Wali Sanga

Bagi anda yang sedang mencari gambar Wali Sanga/Wali Songo, Sejarah Nasional dan Dunia mempersembahkannya untuk anda di bawah ini.

Gambar lengkap Wali Sanga

Semoga menjadikan catatan sejarah bumi nusantara ini.
Read more ...

Sekilas sejarah berdirinya Masjid Agung Demak

Boleh dikata sejarah berdirinya masjid Agung di Demak adalah berhubungan rapat dengan sejarah berdirinya kerajaan Demak. Sebab, sudah merupakan tradisi bagi umat Islam semenjak zaman Nabi Muhammad SAW, bahwa berdirinya negara Islam adalah didahului atau dibarengi dengan didirikannya masjid.

Demikian pula halnya di Jawa, termasuk juga Demak. Sebagaimana kita maklum, Demak adalah merupakan pusat kegiatan para wali ketika itu dalam menyiarkan dan menyebarkan Islam di Jawa. Terutama merupakan pusat kegiatan dalam lapangan politik. Dan pertama-tama yang didirikannya adalah masjid, karena masjid dalam pandangan Islam adalah merupakan pusat kegiatan dalam segala aspek kehidupan umat Islam.

Setengah riwayat mengatakan, bahwa masjid wali yang bersejarah itu didirikan pada hari Kamis Kliwon malam Jum'at Legi bertepatan dengan tanggal 1 Dlulqoidah tahun Jawa 1428.

Sekilas sejarah berdirinya Masjid Agung Demak

Akan tetapi ada pula pendapat lain lagi mengenai tahun berdirinya masjid Agung Demak, yaitu :
1. Pendapat yang mengatakan, bahwa masjid Agung Wali Demak itu didirikan pada tahun Saka 1388, berdasarkan candrasengkalaX, naga salira wani, yaitu pengambilan dari gambar petir yang ada di pintu tengah.

2. Pendapat yang kedua mengatakan, bahwa masjid Demak didirikan pada tahun Saka 1401, berdasarkan gambar bulus yang terdapat di dalam pengimaman masjid. Gambar bulus tersebut diartikan sebagai berikut :
a. Kepala bulus berarti angka satu (1)
b. Kaki bulus berjumlah 4 berarti (4)
c. Badan bulus berarti angka nol (0)
d. Ekor bulus berarti angka satu (1)

Jadi, dari gambar bulus ini diambil sebagai pedoman bagi tahun berdirinya masjid Demak.

Hanya saja kita kurang begitu mengerti, dasar apakah yang dipakai untuk menentukan bahwa masjid Demak tersebut didirikan pada tahun Jawa 1428.

Sepanjang apa yang kita ketahui, menurut kepercayaan masyarakat setempat, masjid Wali di Demak itu memang benar didirikan oleh para wali sanga, sewaktu mereka hendak memperluas agama Islam di tanah Jawa dengan menjadikan Demak sebagai pusatnya.

Candrasengkala
Menurut surat-surat kuno yang menceritakan bab tahun Jawa, menerangkan bahwa sebetulnya Candrasengkala dan Suryasengkala itu untuk memberi nama tahun. Adapun tahunnya orang Jawa pada zaman dahulu itu ialah :

Cakakala atau Cakawarsa, artinya : tahun peringatan mula lahirnya zaman Prabu Saka (Caka). Tahun Saka itu artinya matahari, usianya sama dengan tahun Masehi.

Menurut pendapat Dr. Hazeu, tersebut di dalam surat Pararaton bahasa Jawa jilid 1 pg. 14 (yang menceritakan adalah R.M. Mangkudimedja) bunyinya : menurut pendapat Dr. Hazeu, perkataan Sangkala atau Sengkala itu asalnya dari bahasa Sanskrit : Cakala yang juga masih dipakai di Jawa Kuno, artinya perhitungan masa menurut Caka, yaitu yang dinamakan oleh orang Jawa : Ajisaka, mulai tahun Masehi 78. Lebih lanjutnya silahkan baca buku Raden Bratakesawa, karangan Candrasengkala terbitan Balai Pustaka, p. 18 - 19.
Read more ...